Malem Sambat Kaban, Mantan Menteri Kehutanan Kabinet Indonesia Bersatu, Ternyata Warga Binjai

Malem Sambat Kaban adalah putra dari A.M. Kaban, seorang pedagang dan S. Tarigan, seorang ibu rumah tangga.

Editor: ayu prasandi

TRIBUN MEDAN.COM, BINJAI- Mantan Menteri Kehutanan pada Kabinet Indonesia Bersatu Malem Sambat Kaban ternyata merupakan warga Kota Binjai

Malem Sambat Kaban lahir pada 5 Agustus 1958 di Kota Binjai

Dilansir dari Wikipedia, pada 1 Mei 2005, ia diangkat sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB).

Pada bulan Juli 2021, ia diangkat menjadi Wakil Majelis Syuro Partai Ummat.

Malem Sambat Kaban adalah putra dari A.M. Kaban, seorang pedagang dan S. Tarigan, seorang ibu rumah tangga.

Ia anak keenam dari sebelas bersaudara keluarga Suku Karo. 

Ayahnya menganut kepercayaan Pemena.

Nama Malem Sambat Kaban dalam Bahasa Karo berarti orang yang baik dan suka menolong.

Baca juga: Ondim, Wakil Bupati Langkat, Pengganti Terbit Perangin-angin yang Ditangkap KPK

Kaban menghabiskan masa kecilnya di Deliserdang.

Ia lalu menamatkan pendidikan di SMA Negeri 7 Medan. 

Ia merantau ke Jakarta dan menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya untuk merasakan aktivisme. 

Kemudian, ia berikrar memeluk Islam ketika itu.

Ia sempat masuk resimen mahasiswa dan menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta. 

Tidak hanya itu, ia juga meraih gelar sarjana ekonomi dari kampus itu.

Ia lalu meraih gelar magister sains dalam bidang ilmu perencanaan pembangunan wilayah dan pedesaan dari Institut Pertanian Bogor.

Setelah menjadi sarjana, ia masuk Jakarta Public Relation yang bergerak dalam pengembangan sumber daya manusia.

Ia pernah meneliti potensi ekonomi wilayah Taman Nasional Gunung Leuser pada 1992 dan menjadi ketua tim Penelitian Potensi Ekonomi Lemah di tahun 1993. 

Selanjutnya ia menjadi peneliti muda pada studi pengkajian Strategi Pengusahaan Anak Perusahaan Joint Venture Pertamina pada 1994.

Baca juga: Gracela Evani, Runner Up Jawara Pesona Batik Nusantara 2022 Kota Medan

Pada Pemilu 1997, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Ismail Hasan Metareum mengajak Kaban bergabung menjadi calon anggota legislatif dari PPP dan dijanjikan kursi dari Jawa Barat.

Namun, Kaban menolaknya karena masih dalam suasana Orde Baru.

Sebelum reformasi, ia ikut dalam diskusi-diskusi politik untuk mendirikan partai politik.

Diskusi ini mengusulkan Amien Rais sebagai ketua dan Yusril Ihza Mahendra sebagai sekretaris jenderal. 

Namun, belum tercapai kesepakatan tentang nama dan asas partai.

Akhirnya pada 1998, Amien dan kawan-kawan membentuk Partai Amanat Nasional, sedangkan Yusril, Kaban, dan kawan-kawan ikut dalam pembentukan Partai Bulan Bintang (PBB) yang berasaskan Islam dan memperjuangkan Piagam Jakarta.

Ia dipilih sebagai sekretaris jenderal mendampingi Ketua Umum Yusril Ihza Mahendra.

Awalnya ia sempat menolak, tetapi ia berubah pikiran setelah menerima nasihat dari Anwar Haryono.

Kaban dipilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Menteri Kehutanan Republik Indonesia dan dilantik pada 21 Oktober 2004.

Baca juga: Nursaadah, Putri Pariwisata Sumut 2019, Belajar Kebudayaan dan Sejarah Melalui Pariwisata

Sekretaris Jenderal PBB Afriansyah Ferry Noor mengaku bahwa Kaban sudah tidak aktif di PBB sejak 2019.

Pada 29 April 2019 ia bergabung menjadi Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Ummat mendampingi Amien Rais.

Selain Kaban, anak ke empat yang bernama Ahmad Rizqi Robbani Kaban juga menjadi pengurus Dewan Pengurus Pusat Partai Ummat sebagai Ketua Bidang Pemuda Komunitas dan Olahraga.

(wen/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
314 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved