4 Situs Sejarah di Pulau Sibandang, Kepingan Surga di Tengah Danau Toba

Pulau ini merupakan pulau selain Samosir yang juga terletak di tengah Danau Toba. Terdapat tiga desa di Pulau Sibandang, yakni Desa Sibandang.

Editor: ayu prasandi
TRIBUN MEDAN/RECHTIN
Sosor Silintong, salah satu tempat atau situs bersejarah di Desa Sibandang, di mana di lokasi ini terdapat sebuah Rumah Adat dan Rumah Raja yang dibangun pada tahun 1800-an. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Pulau Sibandang atau yang juga dikenal sebagai Pulau Pardopur merupakan pulau yang terletak di Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. 

Pulau ini merupakan pulau selain Samosir yang juga terletak di tengah Danau Toba.

Terdapat tiga desa di Pulau Sibandang, yakni Desa Sibandang, Desa Papande dan Desa Sampuran. 

Pulau Sibandang menyimpan banyak kisah sejarah yang menyangkut empat marga yang tinggal di pulau ini. 

Baca juga: Agunarta Syarifuddin Manik, Raih Prestasi di Ajang Pemuda Pelopor Nasional 2021

Berikut beberapa situs sejarah yang bisa ditemui di Pulau Sibandang:

1. Makam Opung Raja Hunsa

Makam ini terletak di Desa Sibandang, tepat di pintu masuk desa wisata Sibandang yang tak jauh dari dermaga.

Makam ini merupakan makam raja pertama yang ada di Pulau Sibandang yaitu Opung Raja Hunsa.

Makam ini dibangun pada tahun 1850, di mana pada masa hidupnya Raja Hunsa telah memerintahkan kepada para pekerjanya ataupun budaknya untuk membuat sebuah makam supaya pada saat ia meninggal nanti disitulah yang menjadi tempat peritirahatannya.

Makam ini terbuat dari batu yang diukir sehingga berbentuk makam ataupun kuburan batu.

Keturunan dari Opung Raja Hunsa yang ada dimakamkan di sekitar makam ini adalah Opung Sutan Dopa dan Opubg Harangan yang merupakan Kepala Nagari pertama setelah kemerdekaan RI atau masa terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Di areal pemakaman ini juga terdapat 7 kursi batu yang tersusun rapi berbentuk setengah lingkaran.

Ketujuh kursi batu tersebut adalah 7 anak dari Opung Raja Hunsa yang terdiri dari 5 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. 

Namun sebagian orang juga mempersepsikan ketujuh kursi batu tersebut juga merupakan lambang 7 bersaudara dari Ayah Opung Raja Hunsa, yakni Opung Raja Pardopur, Opung Niujungtahi, Guru Manassir, Opung Raja Inganan, Opung Raja lang, Opung Sobolokna dan Opung Galoping. 

Baca juga: Makam Raja Sisingamangaraja XII Ternyata Ada di Sionom Hudon, Berikut Sejarahnya

2. Situs Rumah Bolon

Terdapat satu Rumah Bolon yang memiliki umur sangat tua di Desa Sibandang.

Rumah Bolon ini dibangun pada tahun 1718, di mana proses pembangunanannya berlangsung selama tiga tahun.

Rumah adat ini semuanya terbuat dari bahan kayu yang sangat besar dan kuat, di mana proses pembangunanya saat itu tidak menggunakan paku, akan tetapi disimpul dan disekat oleh tali rotan sehingga menyatu dan akhirnya berbentuk sebuah rumah adat.

Rumah ini merupakan Rumah Raja/Adat pertama yang dibangun di Pulau Sibandang sekaligus tempat kediaman Op Raja Hunsa selama masa kepemimpinannya. Rumah Bolon ini dihiasi dengan Gorga Batak dan ukiran ornament lainnya sehingga menambah daya tarik dan keunikan dari rumah tersebut. 

Rumah adat ini memiliki empat bagian di dalamnya yaitu, Jabu Suhat, Jabu Tappiring, Jabu Oding, Jabu Bona.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
306 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved