Monumen Tengku Amir Hamzah, Ikon Kabupaten Langkat

Monumen yang terbuat dari batu marmer ini berada tepat di jantung kota Stabat, tepatnya di alun-alun kota di depan kantor bupati Langkat.

Editor: ayu prasandi
HO
Monumen Tengku Amir Hamzah 

TRIBUN MEDAN.COM, STABAT - Monumen Tengku Amir Hamzah, yang terletak di Alun-alun, Jalan Proklamasi, Stabat, merupakan ikon masyarakat Kabupaten Langkat

Dilansir dari berbagai sumber, monumen ini diresmikan bersamaan dengan pembukaan Pesta Budaya Melayu ke-3 pada 19 Desember 1986 ini terbuat dari batu marmer dengan patung Garuda Pancasila berada di atasnya.

Tengku Amir Hamzah adalah pahlawan nasional dan juga penyair kebanggan Indonesia.

Monumen yang terbuat dari batu marmer ini berada tepat di jantung kota Stabat, tepatnya di alun-alun kota di depan kantor bupati Langkat.

Monumennya berbentuk tugu dengan patung Garuda Pancasila bertengger di puncaknya. 

Di bagian kaki tugu terdapat ilustrasi sebuah buku yang terbuka dan di depannya ada sebuah pena dari bulu angsa yang tercelup dalam wadah tinta.

Baca juga: Cindy Aurellia, Pengusaha Muda Asal Medan yang Fokus Berbisnis Korean Cake

Pada sisi kiri halaman buku yang terbuka itu tertulis riwayat hidup hidup Pahlawan Nasional Tengku Amir Hamzah. Sementara, pada sisi kanannya terdapat sebuah sajak karya Tengku Amir Hamzah yang berjudul Berdiri Aku.

Tengku Amir Hamzah sendiri adalah seorang pahlawan nasional dan seorang penyair yang sangat terkenal. Bahkan, HB Jassin menjulukinya sebagai 'Raja Penyair Pujangga Baru'.Beliau sendiri dilahirkan pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat. 

Lahir dari keluarga bangsawan Kesultanan Langkat, membuat beliau bisa bersekolah di Mulo Batavia, kemudian di AMS Solo, dan kembali ke Batavia untuk belajar hukum di Sekolah Hakim Tinggi, hingga meraih Sarjana Muda Hukum.

Meski berlatar belakang pendidikan di bidang hukum, tetapi posisinya sebagai putra bangsawan Kesultanan Langkat membawanya masuk dalam lingkaran sastrawan. 

Tengku Amir Hamzah diangkat menjadi pahlawan nasional karena prestasinya dalam membawa kesusastraan Indonesia memasuki era baru, era pujangga baru bersama Armjn Pane dan St. Takdir Alisjahbana.

Baca juga: Desa Kolam dan Tugu Ampera PKI, Ternyata Miliki Sejarah Kelam Ini

Bersama mereka, Tengku Amir Hamzah merintis majalah Pujangga Baru. Secara keseluruhan ada sekitar 160 karya Amir Hamzah yang berhasil dicatat. 

Di antaranya 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli dan 1 prosa terjemahan. 

Karya-karyanya tercatat dalam kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur dan terjemah Baghawat Gita.

(wen/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
285 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved