Kota Perdagangan, Tempat Transaksi Kerajaan Nagur Masa Lampau

Camat mengatakan, mereka tak bisa membangun monumen atau semacamnya sebagai penegasan Kota Perdagangan berkaitan dengan sampan atau lainnya.

Editor: ayu prasandi
TRIBUN MEDAN/ALIJA
Pemandangan Pusat Kota Perdagangan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun 

TRIBUN-MEDAN.com, SIMALUNGUN- Perdagangan merupakan kawasan padat penduduk tertinggi di Kabupaten Simalungun. Bahkan statusnya melampaui ibu kota Kabupaten Simalungun sendiri yang letaknya berada di Pematang Raya. 

Seperti namanya, Perdagangan merupakan lokasi transaksi dagang para raja Simalungun dengan bangsa asing pada masa lampau. Hanya saja tak ada dokumen valid mengenai kapan berdirinya daerah yang secara administratif berada di wilayah Kecamatan Bandar.

Camat Bandar, Amon Charles Sitorus mengatakan asal nama Perdagangan seperti yang diketahui berasal dari nama Sam Pan Tao (tempat berdagang dengan perahu kayu) sebutan dari etnis Tionghoa. Namun, ada kalangan lain menyebut Sam Pan Tao adalah sampan terbalik.

Baca juga: Brian Harefa, Anak Pulau Yang Keliling Dunia Lewat Saksofon

"Ada yang bilang Sam Pan Tao itu sampan terbalik. Cuma kami coba gali, belum dapat sejarahnya. Mungkin karena sudah lama berlalu dibiarkan sehingga tak terlihat lagi situs bersejarahnya," kata Camat.

Camat mengatakan, mereka tak bisa membangun monumen atau semacamnya sebagai penegasan Kota Perdagangan berkaitan dengan sampan atau lainnya.

Sebab tak ada bukti sejarah yang valid.

"Sekarang bukti kita apa? Apa ikon sampan kita. Masih hanya mulut ke mulut," kata Camat saat ditemui di kantornya Selasa (7/9/2021) siang. 

Kota Perdagangan, ujar Camat, memiliki sungai yang cukup lebar karena merupakan pertemuan dari tiga sungai asal Simalungun atas (kawasan dataran tinggi). Sungai tersebut bermuara ke Selat Malaka yang dahulu merupakan jalur dagang internasional.

Beberapa literatur menyebut Perdagangan menjadi daerah transaksi komoditas unggulan masyarakat tradisional kerajaan dengan bangsa asing. 

"Di sini kumpul kapal-kapal saudagar dulu," kata Camat seraya menyebut banyak perkebunan karet berdiri di daerah Perdagangan masa itu.

Baca juga: 4 Taman Olahraga di Kota Medan yang Ramah Anak Bahkan Hewan Peliharaan

Dosen Sejarah Universitas Simalungun (USI) Jalatuah Hasugian menjelaskan, dahulu sungai di Perdagangan menjadi tempat berjualan Kerajaan Nagur. Dahulu sungai tersebut luas sehingga akses transportasi dagang Dinasti Tiongkok lancar.

"Itu dulu sungainya luas. Transaksi Karet Balata (karet merah) dari Kerajaan Nagur dengan Tiongkok di sana. Tiongkok beli karet balata untuk tiang kapal ceritanya di sana," katanya.

Perlu diketahui, Kerajaan Nagur merupakan kerajaan Simalungun yang berdiri sejak Abad ke-5. Kerajaan Nagur merupakan cikal bakal berdirinya 7 kerajaan di Siantar dan Simalungun pada abad ke-13.

(Alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
289 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved