Desa Kolam dan Tugu Ampera PKI, Ternyata Miliki Sejarah Kelam Ini

Dikarenakan letaknya cukup jauh dari Kota Medan, bisa dibilang berada di pedalaman Tembung, Deliserdang.

Editor: ayu prasandi
HO
Tugu Ampera PKI 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN- Kampung Kolam atau yang sekarang lebih dikenal dengan Desa Kolam. Desa yang terletak di Kecamatan Percutseituan, Kabupaten Deliserdang, memiliki sejarah panjang.

Bahkan tempat yang satu ini dahulunya memiliki sejarah kelam yang tak luput dari ingatan masyarakat.

Ya tempat yang satu ini pernah diduduki oleh PKI yang mana peristiwa besar terjadi yakni pembantaian para pahlawan Republik Indonesia pascakemerdekaan.

Baca juga: Tak Perlu Repot ke Kantor Samsat, Bayar Pajak Kini Bisa Melalui Toko Ritel, Begini Caranya

Dari sejumlah informasi yang berhasil dihimpun, PKI menjadikan Desa Kolam ini sebagai basis diperkirakan tahun 1965.

Kalau dari Kota Medan, menuju Desa Kolam memerlukan waktu kurang lebih satu jam.

Dikarenakan letaknya cukup jauh dari Kota Medan, bisa dibilang berada di pedalaman Tembung, Deliserdang.

Ada dua arah menuju ke Desa kolam, pertama menggunakan Jalan Bandar Setia Tembung atau Pasar X Tembung. 

Dahulunya, PKI pun sering kali mengadakan kaderisasi di Kampung Kolam dengan naungan organisasi Fajar Harapan. 

Diawal kedatangan PKI yang menempatkan Desa Kolam ini, pada awalnya tidak lah menjadi masalah.

Namun saat pemerintah menetapkan PKI sebagai organisasi terlarang sejak 30 September 1965 dimulailah percikan api tragedi Kampung Kolam.

Baca juga: Cindy Aurellia, Pengusaha Muda Asal Medan yang Fokus Berbisnis Korean Cake

Kondisi Desa Kolam dahulunya merupakan perkebunan ladang, dan hutan. Jumlah penduduknya masih sedikit. Rumah yang satu dengan yang lain, jaraknya berjauhan. 

Desa Kolam juga banyak perkebunan tembakau. Alat bantu penerangannya hanya obor atau lampu semprong.

Untuk mengempang pergerakan PKI, Pemuda Pancasila turut mengatu strategi.

Saat itu, Ketua Pemuda Pancasila, MY Effendy Nasution yang kerap disapa Fendi Keling, Senin pagi 25 Oktober 1965 sekitar pukul 10.00 WIB pun menyusun strategi penumpasan dan pengepungan PKI di tiga sektor yakni daerah Pekan Tembung, Batangkuis, dan Pasar 10 Tembung guna melaksanakan perintah. 

Untuk mengetahui mana kawan dan lawan, angka 4 dan 2 menjadi kode tersendiri dalam aksi tersebut. 

Dengan kata lain, jika seseorang menyebut angka 4 maka teman yang lain harus menyahuti dengan angka 2, jika tidak ada sahutan maka disebut lawan. Sesuai strategi seluruhnya menyerbu secara bersamaan sekitar pukul 14.00 WIB.

Pascatragedi 30 September, berdirinya tugu Ampera PKI di Desa Kolam sebagai pengingat sejarah panjang para pahlawan.

Di lokasi ini juga setiap tahunnya tepatnya pada malam 30 September dilakukan upacara penghormatan dan tabur bunga.

Baca juga: Ramanda, Mahasiswa Asal Asahan, Bisa Hasilkan Omset Puluhan Juta dari Usaha Sablon

Sejarah kelam tersebut, kini telah berubah, yang dikatakan orang-orang tidak perlu dikhawatirkan, karena suasana di sana saat ini begitu nyaman, aman, dan sejuk. 

Tidak ada kesan angker penuh mistik. Rambu-rambu bahaya pun tidak dijumpai di sepanjang perjalanan. 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
284 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved