Mengenal Sejarah Letusan Gunung Sinabung Mulai dari Zaman Purba Hingga Kini

Terakhir kali, gunung dengan ketinggian 2460 MDPL ini terpantau erupsi dua bulan lalu tepatnya pada 29 Juli 2021.

Editor: ayu prasandi
TRIBUN MEDAN/NASRUL
Seorang pria mengabadikan momen erupsi Gunung Sinabung, di kawasan Desa Tigapancur, Kecamatan Simpangempat, beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, KARO -Sebagai salah satu gunung api aktif yang ada di Indonesia, tentunya sudah tidak asing lagi dengan nama Gunung Sinabung.

Gunung api yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara ini, bahkan aktivitasnya sampai saat ini dapat dikatakan masih cukup tinggi.

Diketahui, Gunung Sinabung tercatat masih cukup sering mengalami peningkatan aktivitas dengan adanya erupsi.

Terakhir kali, gunung dengan ketinggian 2460 MDPL ini terpantau erupsi dua bulan lalu tepatnya pada 29 Juli 2021.

Baca juga: Muharlaili, Penyanyi Asal Medan yang Tetap Eksis Bawakan Musik Tradisi Melayu

Berdasarkan catatan yang didapat dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Sinabung, diketahui gunung ini pertama kali mengalami erupsi pada beberapa ratus tahun yang lalu.

Menurut informasi dari pengamat Gunung Sinabung Armen Putra, dari data yang mereka miliki jika sebelum tahun 2000'an, Sinabung meletus sekitar 900 hingga 1100 tahun yang lalu.

"Ini menurut pengalaman Geologi yang kami lakukan. Dari material-material seperti batuan yang ada, jika diperkirakan Gunung Sinabung meletus sekitar 900 hingga 1100 tahun yang lalu, kemudian tidur panjang," ujar Armen.

Setelah letusan yang terjadi pada zaman purba tersebut, Gunung Sinabung tidur panjang sampai di tahun 2000an.

Berdasarkan pengamatan dan catatan dari pos PGA Sinabung, Sinabung kembali mengalami erupsi pada tahun 2010 lalu.

Di tahun 2010, tepatnya pada tanggal 27 Agustus masyarakat Kabupaten Karo digemparkan dengan kembali meletusnya gunung yang telah lama tidur pulas itu.

Setelah letusan pertama itu, Sinabung lansung bergejolak beberapa kali dalam kurun waktu yang berdekatan.

"Di bulan Agustus, sempat beberapa kali erupsi dan erupsi lagi di bulan September. Setelah itu tenang," ucapnya.

Baca juga: Ramanda, Mahasiswa Asal Asahan, Bisa Hasilkan Omset Puluhan Juta dari Usaha Sablon

Diketahui, akibat erupsi ini masyarakat yang tinggal di lingkar Gunung Sinabung lansung dievakuasi oleh pemerintah ke beberapa lokasi pengungsian.

Langkah ini, dilakukan untuk menghindari adanya korban di tengah suasana bencana.

Setelah mengalami beberapa kali erupsi dari bulan Agustus hingga September tahun 2010, Sinabung sempat istirahat beberapa waktu selama kurang lebih dua tahun.

Selanjutnya, pada tahun 2013 tanpa ada petunjuk yang jelas Gunung Sinabung kembali mengalami letusan.

Letusan yang terjadi di tahun 2013 inilah, yang menjadi awal mula Gunung Sinabung mengalami erupsi secara beruntun hingga tahun 2018. Berdasarkan catatan dari Pos PGA Sinabung, selain mengalami erupsi berupa letusan Gunung Sinabung juga tercatat mengalami aktivitas vulkanik lainnya.

"Dari tahun 2013 hingga 2018 itulah tidak henti-hentinya erupsi, terus pertumbuhan kubah lava, magmanya meleleh sampai tiga kilometer," ucapnya.

Dari tahun 2018, Sinabung terpantau sempat istirahat beberapa saat dan aktivitasnya kembali meningkat pada tahun 2019.

Kemudian, terlihat istirahat beberapa bulan lalu tahun 2020 Sinabung kembali meningkat lagi aktivitasnya.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
282 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved