Simson Sipahutar, Penikmat Literasi yang Tengah Kembangkan Pertanian di Kawasan Danau Toba

Sebuah produk muncul yang dinamai master booster pada akhirnya membawanya pada sebuah keberhasilan di bidang pertanian.

Editor: ayu prasandi
HO
Simson Sipahutar tengah bersama Bupati Nikson Nababan 

TRIBUN-MEDAN.com, TAPANULI UTARA - Setelah pensiun dari Kompas Gramedia pada tahun 2016, Simson Sipahutar memulai mengembangkan bakat terpendamnya sebagai petani di kawasan Danau Toba.

Bermodalkan dari pengetahuan pertanian sejak kecil, ia pun tertarik kembali di bidang pertanian usai melanglangbuana di metropolitan, Jakarta.

Sejak tahun 2016, ia memulai memberikan perhatian secara serius di bidang pertanian setelah bertemu dengan seorang ilmuwan di bidang ilmu olah tanah dan kimia.

Ternyata percakapan dengan ilmuwan tersebut membuat dia semakin yakin dengan pilihannya, mengembangkan pertanian.

Sebuah produk muncul yang dinamai master booster pada akhirnya membawanya pada sebuah keberhasilan di bidang pertanian.

Pria kelahiran 32 Februari 1969 ini, kini tengah mengembangkan pertanian kentang.

Bahkan, Bupati Taput Nikson Nababan menaruh hati atas usahanya di bidang pertanian tersebut.

Baca juga: Nurul Ayu Ifany, Owner Sayur Mayur Online Medan, Sukses Ubah Sistem Jualan Offline ke Online

Cita-citanya adalah ingin menjadikan Kabupaten Taput menjadi penangkar bibit kentang.

Walaupun demikian, ia juga kerap diminta kelompok tani menjadi konsultan agar proses pertanian mereka terawat dengan baik sejak proses penanaman hingga pemanenan.

Setelah lima tahun membina relasi baik dengan ilmuwan tersebut, ia pun semakin bersemangat mengembangkan sayap di bidang pertanian dengan fokus pada pengelolaan lahan tidur.

"Di kawasan kita ini (kawasan Danau Toba) kita masih banyak menemukan lahan tidur. Nah, lahan ini yang kita coba garap dan hasilnya lumayan dengan tetap menggunakan produk yang kita punya," ujar Simson Sipahutar saat dikonfirmasi tribun-medan.com pada Selasa (31/8/2021).

"Pertemuan dengan seorang profesor tersebut, saya memulai dari lingkungan gereja untuk mengembangkan pertanian tersebut. Setelah bergabung dengan para petani melalui organisasi di gereja katolik di bawah naungan Keuskupan Agung Medan, yakni PSE," sambungnya.

Secara perlahan dengan tetap belajar kembali seputar pertanian, ia pun menggali pengetahuannya lewat terjun ke lapangan secara langsung.

Dan saat ini, ia sedang mengembangkan beberapa jenis produk pertanian, misalnya: cabai, jagung, kenyang, bawang, kopi dan jenis tanaman lainnya.

Baca juga: Nurul Ayu Ifany, Owner Sayur Mayur Online Medan, Sukses Ubah Sistem Jualan Offline ke Online

Dengan kepiawaiannya, ia pun akhirnya dilirik beberapa bupati di kawasan Danau Toba.

Lahan tidur kini ia mulai garap dengan tetapĀ  mendampingi para kelompok tani yang mau belajar.

Semangat mengembangkan pertanian ternyata secara perlahan mendapat sambutan dari sejumlah kelompok tani di kawasan Danau Toba.

Satu hal yang ia mimpikan adalah bahwa masyarakat petani yang ada di kawasan Danau Toba mampu mengolah lahan tidur hingga menghasilkan produk pertanian.

"Dengan memperlihatkan secara langsung kepada petani cara penanaman, perawatan, hingga panen, masyarakat petani pun dapat belajar seputar pertanian. Kita mau secara sukarela menjadi konsultan pertanian," sambungnya.

"Saya sendiri mau, kawasan Danau Toba ini menjadi penangkar bibit pertanian yang akan digunakan di kawasan iki sendiri tanpa harus mengekspor bibit dari luar," sambungnya.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
277 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved