Mengenal Proses Pendirian Rumah Batak Serta Struktur Pentingnya

Dalam pembangunan Ruma Bolon, didapati struktur-struktur serta cara mendirikan rumah yang tak mengenal pondasi ini.

Editor: ayu prasandi
HO
Rumah adat Batak di Istana Raja Sisingamangaraja XII di Bakkara 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN-Rumah adat bagi Etnik Batak Toba merupakan kekayaan yang tak ternilai, dan suatu kebanggan tersendiri bila masih memikiki dan tinggal di rumah Adat Batak Toba.

Rumah adat Batak Toba memiliki struktur dan bagian-bagian serta istilahnya berdasarkan pengertiannya.

Baca juga: Resep Membuat Jagung Mozarella Khas Millenial, Cocok Untuk Cemilan Anak di Rumah

Harian Tribun Medan kali ini memaparkan hasil wawancara dengan seorang mahasiswa Teknik Arsitektur Institut Teknologi (ITM) Medan Asal Samosir, Sintong Sihombing.

Sintong sudah meneliti di beberapa wilayah tentang rumah adat Batak Toba.

Dalam pembangunan Ruma Bolon, didapati struktur-struktur serta cara mendirikan rumah yang tak mengenal pondasi ini.

Meski tak mengenal pondasi, rumah bolon tetap berdiri kokoh dan tahan gempa.

Rumah adat Batak tidak memikiki struktur yang tertancap ke dalam tanah seperti pondasi rumah-rumah beton.

Rumah Batak kaki-kakinya dirikan di atas batu setelah pembangunan rumah selesai.

Baca juga: Arwin P Manurung, Produser Musik, Kini Produseri Album Raptradisi Siantar Rap Foundation

Sebelum mendirikan bangunan pertama sekali digelar acara mangontang tukkang (memanggil tukang) guna mencari biaya.

Termasuk mempersiapkan material dari hutan oleh pemilik.

Kemudian tulang melakukan pemahatan arau martuhil pada tiang dan seluruh konstruksi yang akan dipasang.

Rassang lalu dipasang pada sebelah kanan dan kiri dan dilakukan ritual palolohon (mendirikan) dan warga kampung diundang untuk hajatan.

Bersamaan dengan itu, didirikan pemasangan rassang (kaki-kaki) secara keseluruhan dan pemasangan sumban (kayu penutup pada tiang atas).

Kemudian didirikan tangga ruma nolon di sebelah depan tepat di pertengahan badan rumah.

Uniknya, tidak ada pennggunaan paku dalam meyambungkan tiang yang saru ke tiang yang lain.

Melainkan hanya memakai tali ijuk dengan cara dilubangi secara berulang. Selain itu juga dengan menambal kayu (solang) pada lobang yang lebih besar dari kayu yang dimasukkan agar menjadi kokoh.

Setelah tiang yang berdiri dipasangi rassang dengan cara memasukkannya dengan hasil pahatan yang dilakukan pada tiang secara bergotong royong oleh warga sekampung.

Tiang bulat (sumban) pun satu per satu dimasukkan dan terakhir di arah jabu bona (sudut kanan).

Baca juga: Tipatipa Makanan Khas Batak Toba, Cocok jadi Buah Tangan Saat Berkunjung dari Toba 

Pada bagian dinding dipasang "pandingdingan" dan parhokkom dimana struktur yang lebih besar dan diberi ukiran yang menggambarkan aktivitas kesehrian pemilik rumah tersebut.

Sedangkan pada bagian depan pandingdingan dibuat patung ukiran gorga yang bermakna sebagai penangkal ancaman dari luar yang bersifat mistik.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
269 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved