Alat Musik Khas Karo Keteng-Keteng, Terbuat Dari Bambu dan Miliki Bersuara Merdu

Cara memainkan alat ini juga sangat sederhana seperti layaknya memukul alat musik drum, namun cara memukulnya lebih halus.

Editor: ayu prasandi
HO
Alat Musik Karo,Keteng-keteng 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Masyarakat suku Karo memiliki puluhan alat musik tradisional yang terbuat dari kekayaan alam.

Satu diantara yakni Keteng-keteng, alat musik yang terbuat dari bambu ini dikenal dengan alat musik yang menghasilkan suara merdu, sehingga tidak jarang keteng-keteng selalu dimainkan dalam berbagai acara adat, baik itu pesta tahunan hingga upacara kematian.

Uniknya, keteng-keteng juga memiliki senar, namun bukan dari nilon atau besi, melainkan terbuat dari kulit bambu.

Baca juga: Edward Sinulingga, Kadis PUPR Karo, Sempat Dua Kali Gagal Ikuti CPNS

Dahulu, alat musik ini kerap dijadikan sebagai media dalam upacara Erpangir Ku Lau oleh masyarakat Karo.

Erpangir Ku Lau merupakan suatu upacara mandi yang biasanya dilakukan di danau atau sungai dengan tujuan tertentu seperti mengobati suatu jenis penyakit tertentu, ataupun menyembuhkan seseorang dari pengaruh sihir dan lainnya.

Sehingga bisa dibilang, alat musik ini berperan penting dalam kehidupan masyarakat suku Karo

Cara memainkan alat ini juga sangat sederhana seperti layaknya memukul alat musik drum, namun cara memukulnya lebih halus.

Umumnya, Keteng-keteng terbuat dari bambu yang telah tua atau disebut buluh belin, bambu dipotong  sesuai ukuran ruasnya.

Baca juga: Mitro Hiamanson Manihuruk, Atlet Kickboxing Medan, Kini Fokus Benahi Diri Persiapan PON 2024

Kemudian kulit bambu pada bagian tengah dikupas beberapa bagian dengan ukuran-ukuran kecil, namun kupasan itu tidak sampai lepas, itulah yang dianggap sebagai senar di keteng-keteng, senar tersebut yang dipukul untuk menghasilkan bunyi merdu.

Alat pemukulnya juga terbuat dari bambu berukuran kecil dan ramping.

Bunyi keteng-keteng pun dihasilkan dari dua buah senar yang dibuat dari kulit bambu itu tersebut.

Pada ruas bambu tersebut dibuat satu lobang resonator dan tepat di atasnya ditempatkan sebilah potongan bambu, dengan cara melekatkan bilahan itu ke salah satu senar keteng-keteng. 

Bilahan bambu itu disebut gung, karena peran musikal dan warna bunyinya menyerupai gung dalam Gendang Lima Sendalanen. 

Baca juga: Stephanie Abigail Simanjuntak, Gadis Cilik Medan Yang Luncurkan Single Dengan Konsep Anak-anak

Bunyi musik yang dihasilkan keteng-keteng merupakan gabungan dari alat-alat musik pengiring Gendang Lima Sendalanen (kecuali sarune).

Memang, dahulu keteng-keteng dimainkan dalam acara-acara tertentu saja, namun saat ini alat musik Keteng-keteng dapat dengan bebas dimainkan dalam acara apapun.

Saat ini, alat musik keteng-keteng dapat dengan mudah dibeli secara online ataupun di toko alat musik tradisional di Karo, dengan harga beragam mulai dari Rp 500 ribu. 

(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
235 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved