Sejarah Masyarakat Aceh Di Medan, Dimulai Sejak Abad 16, Kini Merajai Warung Mie Aceh

Sejarawan muda asal Medan, M. Azis Rizky Lubis mengatakan, ekspansi orang-orang Aceh dimulai pada abad ke 16 hingga ke 17 atau sekitar tahun 1612.

Editor: ayu prasandi
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Mie Aceh Kepiting di Mie Aceh Titi Bobrok di Jalan, Setia Budi No17D, Sei Sikambing B, Kec Medan Sunggal, Kota Medan, Senin (2/12/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sampai detik ini warung-warung makan ataupun warung kopi kepunyaan orang yang berasal dari Aceh menguasai pasar di Kota Medan.

Bahkan, kalaupun dihitung menggunakan tangan tak akan mampu menjamah semuanya.

Dari di inti kota, pinggiran sampai nyaris ke pelosok hampir dengan mudah kita temukan warkop-warkop Aceh.

Di Medan misalnya, warkop Aceh terpusat di Multatuli lalu di Jalan Halat Medan.

Sepanjang jalan itu banyak kita temukan warung-warung dengan meja-meja memanjang berpasangan dengan kursi dari papan panjang juga serta warung yang dihiasi dengan lampu terang benderang dan taplak meja warna mencolok.

Ternyata berkuasanya orang-orang asal Aceh dalam segi kuliner maupun perdagangan di Medan, Sumatera Utara bukan tanpa alasan.

Dalam hal ini, kakek buyut mereka turut berperan membangun kekuasaan.

Sejarawan muda asal Medan, M. Azis Rizky Lubis mengatakan, ekspansi orang-orang Aceh dimulai pada abad ke 16 hingga ke 17 atau sekitar tahun 1612.

Baca juga: Nikson Nababan, Bupati Tapanuli Utara, Jadikan Masa Lalunya Inspirasi

Saat itu kesultanan Aceh Darussalam mengirimkan seorang panglimanya  bernama Sri Paduka Tuanku Gocah Pahlawan, untuk memimpin serdadunya dari Aceh untuk menguasai kota-kota di sepanjang Pantai Timur Sumatera.

Atas keberhasilannya menguasai wilayah pantai Sumatera Timur ia pun diberikan kewenangan untuk menjadi pimpinan kesultanan Aceh Darussalam di Pantai Sumatera Timur lalu diangkat menjadi Sultan Deli pertama yang dikukuhkan oleh empat datuk.

Pada saat itulah orang-orang Aceh mulai berdatangan dan berniaga di Medan, Sumatera Utara.

"Sampai mereka ke wilayah Sumatera Timur dan berkuasa di sini. Bahkan awal kesultanan Deli itu juga merupakan bagian dari panglima Aceh. Awal dari kesultanan Deli, raja pertama kesultanan Deli itu merupakan bagian panglima dari kerajaan Aceh.

Dikirim la Sri Paduka Gocap Pahlawan oleh kerajaan Aceh untuk menjadi perwakilan dari kerajaan Aceh disini," kata Sejarawan muda asal Medan, M Aziz Rizky Lubis. Rabu (30/6/2021).

"Kemudian diangkat la dia oleh empat kedatukan yang ada di Sumatera Timur. Karena kesultanan Deli belum ada ketika itu. Gocap Pahlawan. Panglima yang dikirim oleh Aceh untuk menginvasi wilayah ini dan jadilah dia sultan disini."

Baca juga: 4 Sosok Hantu Yang Ditakuti Masyarakat Karo, Penjaga Kebun Hingga Hutan

Saat itu orang-orang Aceh yang gemar berdagang terus berdatangan bahkan hingga kini.

Meski demikian, perkembangan pendatang asal Aceh saat ini lebih banyak ke dua sektor yakni, warung kopi ataupun kedai sembako.

Disini mereka mampu merajai dua bisnis tersebut.

Akan tetapi bisnis kuliner yang mereka bangun sedikit mengalami pergeseran.

Aziz menyebutkan kalau citarasa makanan khas Aceh yang dibawa ke Medan ada modifikasi rasa dimana mereka menyesuaikan dengan lidah orang Sumatera Utara yang cenderung menyukai rasa pedas.

Sehingga tak heran kalau seandainya kita makan mie goreng Aceh yang ada di Medan dengan di tanah serambi Mekah rasanya berbeda.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
217 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved