Nikson Nababan, Bupati Tapanuli Utara, Jadikan Masa Lalunya Inspirasi

Pria kelahiran Siborongborong pada tanggal 5 Oktober 1972 ditempa dalam keluarga yang sederhana. Selain guru, orangtuanya juga bertani. 

Editor: ayu prasandi
TRIBUN MEDAN/ MAURITS
Bupati Tapanuli Utara (Taput) Nikson Nababan 

TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG - Bupati Tapanuli Utara (Taput) Nikson Nababan berkisah seputar kepemimpinannya yanga banyak belajar dari prinsip kedua orangtuanya. 

Gigih, santun, dan tak kenal lelah adalah hal yang ia senantiasa teladani dari orangtuanya yang bekerja sebagai guru dan petani. 

"Iya orang tua saya guru, sintua. Mamak saya guru  kami ada 7 bersaudara. Saya nomor 6. Pada zaman itu guru itu gajinya hanya dengan beras catu, gajinya sedikitlah.

Kami harus bertani supaya abang dan kakak saya bisa kuliah," ujarnya sembari mata berkaca-kaca saat disambangi di Rumah Dinas Bupati Taput pada Sabtu (5/6/2021). 

Baca juga: Taman Terbuka Hijau di Kabupaten Asahan yang Asik Untuk Keluarga

Pria kelahiran Siborongborong pada tanggal 5 Oktober 1972 ditempa dalam keluarga yang sederhana. Selain guru, orangtuanya juga bertani. 

"Sekarang, saya berpikir bagaimana pengalaman pahit seorang petani itu tidak dialami oleh masyarakat Taput ini setidaknya di masa kepemimpinan saya. Pengalaman pahit yang dialami orang tua saya waktu dulu jangan lagi dialami oleh masyarakat di sini," sambungnya. 

Satu hal yang diingat oleh orang nomor 1 di Taput iki adalah harga hasil tani yang tidak stabil yang membuat petani pada waktu menjerit. 

Masa kecilnya adalah masa penuh perjuangan. Setiap harinya sepulang sekolah, ia harus membantu orangtuanya di ladang. Bahkan, orangtuanya harus mengolah tanah orang lain dengan sistem bagi hasil tanaman. 

Kadang, setelah lahan yang telah digarap itu diminta balik oleh pemilik lahan setelah dibersihkan. Mereka rela mengolah tanah milik orang lain demi kebutuhan hidup. 

"Tanah itu kita sewa yang dulunya rimba, kita olah, lalu berhasil. Nah, setelah dua tahun ditarik oleh pemiliknya. Itulah yang membuat saya sedih," kisahnya. 

Sudah mengalami kesulitan mendapatkan lahan dan mengolahnya, kerap harga hasil tani juga tidak mendukung. 

Ia dengan ibunya kadang menyambangi beberapa agen hanya untuk membuat perbandingan harga dengan harapan bisa mendapatkan untung sedikit. 

Baca juga: Imam Ramadan Ritonga, Atlet Bola Voli Yang Akan Berlaga di PON ke-20 Papua

Nikson Nababan bersama ibunya harus mengelilingi pasar tradisional di Siborongborong untuk menjajakan hasil tani tersebut.

Baginya, dengan semangkok mie soup sudah sebuah kegembiraan saat waktunya ke pasar tradisional. 

"Kalau pekan itu kan sekali seminggu pas hari Selasa. Saat itulah kami bisa menikmati lauk yang berbeda dari hari biasanya. Kalau ikut ibu dulu, makan mie soup aja sudah senang," tuturnya. 

Sejak SD hingga SMA, ia selalu membantu orangtuanya ke ladang. Bahkan, pada hari Sabtu setiap minggunya, ia pergi ke hutan mencari kayu bakar yang berjarak 6 kilometer dari rumahnya. 

"Kalau ke ladang itu pukul 13.00 WIB, nanti kita balik ke rumah sudah pukul 19.00 WIB. Jadi enggak ada namanya hari libur. Mungkin, kalau libur itu pun pas libur Natal dan Tahun Baru aja. Kalau hari Minggu itu tidak ada istilah libur. Kita menjemur padu, kopi," sambungnya penuh haru.

Pengalaman di masa kecil itulah yang membuatnya mudah berempati. Setelah SMA, ia berangkat ke Medan kuliah tepatnya di Medan Area selama satu tahun. 

"Saat kuliah di Medan Area selama 1 tahun, saya juga mengalami betapa pahitnya hidup. Kadang, sampai satu bulan tak ada uang kiriman. Jadi, sangat sedih kadang," terangnya. 

Baca juga: Sejarah Berdirinya Pasar Horas, Ikon Kota dan Pusat Ekonomi Rakyat Siantar

Lalu, ia melanjutkan sekolah ke Yogyakarta dan mengecap pendidikan di  Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa. 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
210 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved