Bursa Buku Bekas Medan, dari Titi Gantung Hingga Kembali ke Sisi Timur Lapangan Merdeka

Berdasarkan cerita seorang pedagang, Sainan, Titi Gantung menjadi tempat berjualan puluhan bahkan ratusan pedagang buku bekas. Kondisi itu dimulai sej

Editor: ayu prasandi
TRIBUN MEDAN/ MUSTAQIM
Pedagang di bursa buku bekas Lapangan Merdeka Medan 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bagi masyarakat Kota Medan, bila mendengar tempat lokasi penjualan buku bekas, pasti sebagian besar menyebut Titi Gantung

Titi Gantung merupakan jembatan yang menghubungkan Jalan Jawa dengan Jalan Stasiun Kereta Api Kota Medan.

Kedua jalan itu dipisahkan oleh perlintasan rel kereta api.

Dan di kawasan Titi Gantung itu dulunya dikenal sebagai lokasi penjualan buku bekas di Kota Medan. Banyak pelajar dan mahasiswa yang datang untuk mencari buku bahan bacaan.

Baca juga: Sejarah Berdirinya Pasar Horas, Ikon Kota dan Pusat Ekonomi Rakyat Siantar

Berdasarkan cerita seorang pedagang, Sainan, Titi Gantung menjadi tempat berjualan puluhan bahkan ratusan pedagang buku bekas. Kondisi itu dimulai sejak tahun 1965.

"Sudah ada keberadaannya sejak tahun 1965. Tapi saya generasi yang berjualan pada tahun 1985. Hingga akhirnya berjualan di sini (sisi timur Lapangan Merdeka) banyak lika-liku dalam bursa buku bekas ini," ungkap Sainan, Sabtu (5/6/2021).

Pada tahun 2003, pedagang bursa buku bekas yang awalnya berjualan di atas Titi Gantung akhirnya direlokasi ke sisi timur Lapangan Merdeka oleh Pemko Medan.

Di era kepemimpinan Wali Kota, Abdillah, saat itu Pemko Medan pun menyediakan lapak berjualan untuk para pedagang buku bekas yang jumlahnya mencapai ratusan.

Sedangkan, jembatan Titi Gantung disebut akan dijadikan cagar budaya, karena bangunannya merupakan peninggalan Belanda.

Baca juga: Sejarah Berdirinya Pasar Horas, Ikon Kota dan Pusat Ekonomi Rakyat Siantar

"Saat itu kami merespon pindah, karena Pemko sediakan tempat," ujarnya.

Pada tahun 2013, Pemko Medan pun kembali merelokasi para pedagang buku bekas ke kawasan Jalan Pegadaian Medan atau tepat di samping perlintasan rel kereta api. Lokasi itu merupakan lahan milik PT KAI.

Alasan relokasi untuk kedua kalinya ini, lantaran Pemko Medan akan menjadikan sisi timur Lapangan Merdeka sebagai lahan parkir, dengan dilengkapi fasilitas sky bridge yang bisa menghubungkan Stasiun Kereta Api ke tempat parkir tersebut.

"Pedagang sempat menolak, karena lahan itu kan jalur hijau, punya PJKA. Dan waktu itu juga ada rencana dibangun rel kereta api ke Kualanamu. Jadi sempat ada negosiasi antara Pemko dan pedagang," ungkap Sainan.

Hingga akhirnya, pada tahun 2017 pedagang bursa buku bekas itu pun dikembalikan ke sisi timur Lapangan Merdeka tanpa merubah fungsi sebagai lahan parkir.

Baca juga: Nikson Nababan, Bupati Tapanuli Utara, Jadikan Masa Lalunya Inspirasi

Pemko menyediakan tempat berjualan, dengan membangun ratusan kios di lantai II, yang khusus diperuntukkan bagi pedagang buku bekas.

"Sampai sekarang kami berjualan di sini," ucapnya.

Terkait buku bekas, para pedagang umumnya memeroleh dari masyarakat bahkan pengecer barang bekas (goni botot). Selanjutnya buku-buku bekas itu ditawarkan kepada masyarakat yang datang.

Di samping buku bekas, mereka juga ada menjual buku baru yang kadang kala ditawarkan langsung dari penerbit, tentunya dengan harga yang sedikit lebih murah dari harga toko.

Belakangan, kata Sainan, peminat buku bekas maupun masyarakat yang datang terus berkurang. 

kondisi ini terjadi akibat terus berubahnya kurikulum belajar di sekolah dan juga perkembangan teknologi.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
213 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved