Aldi Yadi Hasibuan, Mantri Sukarela di Puskesmas, Miliki Jasa Sunat Gratis Untuk Anak-anak di Asahan

Pria kelahiran 38 tahun silam itu sudah lebih dua tahun menjalankan praktiknya dan hampir 400 orang yang sudah di khitan olehnya.

Editor: ayu prasandi
TRIBUN MEDAN/ ALIF
Aldi Yadi Hasibuan (38), seorang mantri sukarela di Puskesmas Simpang Empat membuka praktek khitanan gratis di rumah 

TRIBUN-MEDAN.COM, ASAHAN - Sosok tenaga kerja sukarela (TKS) di salah satu pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di Kabupaten Asahan mampu mendirikan rumah Khitanan gratis untuk anak-anak di sekitar Kabupaten Asahan

Ia Aldi Yadi Hasibuan, seorang tenaga sukarela kesehatan yang saat ini bertugas di Puskesmas Kecamatan Simpang Empat. 

Ia membangun sebuah rumah Khitanan (Sunatan) secara gratis di rumahnya yang terletak di Desa Sungai Kama I, Kecamatan Sei Dadap, Kabupaten Asahan

Pria kelahiran 38 tahun silam itu sudah lebih dua tahun menjalankan praktiknya dan hampir 400 orang yang sudah di khitan olehnya.

Baca juga: Taman Terbuka Hijau di Kabupaten Asahan yang Asik Untuk Keluarga

Kata Aldi, ia melakukan hal ini murni panggilan dari hati kecilnya yang melihat masyarakat tak mampu harus memikirkan biaya khitanan anak yang sudah dewasa untuk di sunat dan wajibkan oleh agama Islam. 

Dari hal tersebut, ia memberanikan diri untuk membuka jasa tersebut di sebuah kamar berukuran 3x3 meter di samping rumahnya. 

Dari kamar tersebut sudah lebih dari 400 orang anak yang di khitan olehnya, dan hampir semua merupakan keluarga yang kurang mampu. 

Tak hanya menyunat, Aldi terbilang nekat karena memberikan obat sekaligus kontrol kepada anak secara gratis dan tanpa dipungut biaya sama sekali. 

Meskipun begitu, ia mengaku tidak pernah merasakan kesulitan dalam ekonomi dan bahkan semakin ia berbuat baik jalan rezekinya semakin bertambah.

Dalam ceritanya, Aldi mengaku pengalaman yang mungkin tidak pernah ia lupakan selama melakukan perjalanan sunatnya ini, di salah satu desa terpencil di sudut Kabupaten Asahan

Dimana, jalan desa di haruskan melewati sungai kecil dan belum dialiri oleh listrik.

Baca juga: Taman Terbuka Hijau di Kabupaten Asahan yang Asik Untuk Keluarga

Dalam ceritanya, Aldi yang bersama beberapa orang rekannya menyunat puluhan anak di kampung tersebut. 

Namun, dikarenakan terlalu banyak pasien, ia dan rekan-rekannya lupa terhadap waktu yang memaksanya harus menunggu esok hari agar dapat melintasi hutan dan sungai tersebut. 

"Kalau di lalui, kami takut, gaada lampu dan harus lewati sungai lagi. Penerangan hanya dari lampu mobil saya, kalau sempat kali lalui ga pulang kami," ujarnya. 

Namun ia merasa bersyukur karena dalam perbuatan baiknya, ia dan rekannya kala itu selalu di bantu oleh masyarakat.

(CR2/TRIBUN-MEDAN.COM)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
204 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved