Liberhot Pardede, 11 Tahun Berpetualang di Alam, Tuai Banyak Pelajaran Berarti

Bertualang di kawasan hutan dan perbukitan Kabupaten Toba adalah santapannya saat pulang dari perantauannya di pulau Jawa.

Editor: ayu prasandi
HO
Liberhot Pardede, petualang dari Kota Balige 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE - "Petualangan itu lebih pada pengenalan diri. Alam ini mengajarkan banyak hal. Selama bertualang, alam tak pernah berdusta dan mengkhianati," ujar seorang petualang Liberhot Pardede saat berbagi cerita dengan www.tribun-medan.com, Sabtu (8/5/2021). 

Pria yang akrab dipanggil Liber ini telah bertualang sejak tahun 2010.

Menjiwai petualangan baginya sesuatu yang mengasyikkan. Pasalnya, sembari bertualang ia juga sedang mengasah kepekaannya terhadap alam. 

Petualangan yang mayoritas di kawasan hutan dan perbukitan Toba mengajarkannya akan indahnya kawasan Toba dan melihat secara jelas potensi yang dapat dikembangkan di kawasan Toba, secara khusus di bidang pariwisata. 

Bahkan, semenjak kecintaannya tumbuh akan petualangan, ia telah memulai mengabadikan kegiatannya dalam bentuk koleksi foto dan tulisan.

Baca juga: Hariara Nabolon, Pohon Tertua yang Masih Tersisa di Samosir

Liberhot Pardede, petualang dari Kota Balige
Liberhot Pardede, petualang dari Kota Balige (HO)

Ia mengaku tak cakap menulis, ia ingin menjadikan  petualangannya dalam sebuah buku yang kemudian menjadi warisan bagi para petualang berikutnya. 

Bertualang di kawasan hutan dan perbukitan Kabupaten Toba adalah santapannya saat pulang dari perantauannya di pulau Jawa.

Saat bertualang, ia juga kerap menemui rintangan; cuaca, medan  dan juga situasi ekstrem. 

Sehingga, ia yakin bahwa kematian sudah menjadi sahabatnya. Dan, ia juga mengatakan bahwa dirinya senantiasa yakin bahwa dalam bertualang setiap orang harus mampu menjadikan ketakutan menjadi penghormatan. 

"Kalau cuaca itu dah pasti. Kadang kita enggak tahu bahwa cuaca tiba-tiba mengancam. Hal sama juga tentang medannya, kita enggak tahu juga medannya seperti yang terlihat. Pernah suatu ketika saya temui medan yang di luar dugaan," sambungnya. 

"Situasi ekstrem yang dimaksud adalah jumpa dengan binatang buas. Sebab, saya adalah petualang singel. Lebih suka bertualang sendiri," terangnya. 

Ia juga kerap memunculkan hasil jepretannya di media sosial melalui instagram dengan nama Lingkar Toba. Bahkan, secara gamblang ia mengisahkan nilai filosofis lambang Lingkar Toba. 

Baca juga: 5 Pasar Tradisional di Medan yang Pedagangnya Menjual Aneka Kue Kering

Secara ringkas, lambang Lingkar Toba tersebut memperlihatkan bagaimana mata bisa memandang keindahan alam dan budaya Toba yang tersembunyi di berbagai lokasi Toba. 

"Banyak hal yang harus kita eksplor lagi di Toba ini. Sebab, dengan bertualang aku juga tertarik mencintai kehidupan.

Pokoknya kalau saya libur kuliah dari Jawa,saya kembali ke kampung halaman di Balige ini,baik satu bulan maupun satu minggu, saya tetap eksplor Toba ini," ungkapnya. 

Ia memilih medan yang amat jarang ditempuh atau digali orang lain.

Sehingga, masyarakat sekitar kerap menyampaikan bahwa mereka sendiri belum pernah menjalaninya.

Baginya, perjalanan hanya butuh kejujuran dan ketulusan. 

Pria ini lama merantau di daerah Bandung dan Jakarta, sadar bahwa potensi Toba tak kalah dengan potensi yang ada di dua daerah tersebut khususnya di bidang eksplorasi wisata, termasuk di daerah lain. 

Inilah yang membuat dirinya semakin  yakin bahwa Toba adalah mutiara yang tersembunyi. Sebab, destinasi yang indah sangat banyak ditemukan di Toba. 

Baca juga: Nastar, Kue Kering yang Selalu Warnai Momentum Lebaran, Begini Cara Mudah Membuatnya

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
196 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved