Hariara Nabolon, Pohon Tertua yang Masih Tersisa di Samosir

Pohon ini, kini masuk kategori pohon tertinggi dan terbesar di Tano Batak, Khususnya Pulau Samosir. Bahkan diprediksi sudah tumbuh berabad-abad.

Editor: ayu prasandi
TRIBUN MEDAN/ ARJUNA BAKKARA
Seseorang tampak berkeliling diantara akar pohon Hariara milik Marga Samosir yang merupakan pohon tertua di Samosir, tepatnya di Desa Sukkean Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir. 

TRIBUN-MEDAN.com, SAMOSIR - Suku Batak Toba kental dengan Pohon Beringin, Jajabi maupun Hariara. Secara spesifik, pohon-pohon ini memiliki makna tersendiri sesuai fungsinya.

Nah, kali ini kita akan mengunjungi Pohon Hariara di Ujung Timur Pulau Samosir.

Lokasinya berada di Desa Sukkean Kecamatan Onan Runggu. 

Baca juga: 3 Jenis Kurma Digemari Masyarakat Terutama Saat Ramadan, Berikut Manfaatnya Bagi Kesehatan

Warga Lokal, bermarga Samosir, mengatakan, pohon Hariara ini merupakan pohon persatuan Marga Samosir yang telah turun-temurun mereka rawat.

Seseorang tampak berkeliling diantara akar pohon Hariara milik Marga Samosir yang merupakan pohon tertua di Samosir, tepatnya di Desa Sukkean Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir.
Seseorang tampak berkeliling diantara akar pohon Hariara milik Marga Samosir yang merupakan pohon tertua di Samosir, tepatnya di Desa Sukkean Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir. (TRIBUN MEDAN/ ARJUNA BAKKARA)

Baca juga: Cut Novita, Jadi Peneliti Sastra Fenimisme Asal Sumatera

Dulunya digunakan untuk berbagai keperluan aktiviras, termasuk tempat yang disakralkan.

Pohon ini, kini masuk kategori pohon tertinggi dan terbesar di Tano Batak, Khususnya Pulau Samosir. Bahkan diprediksi sudah tumbuh berabad-abad.

Setidaknya harus ada 15 orang yang bergandengan tangan agar bisa memeluk pohon besar ini. 

Dalam kepercayaan Batak, biasa dilafalkan hariara Sundung di Langit (Hariara Bertajuk di Langit).

Secara sederhana, pohon ini menggambarkan sejarah asal usul manusia turun ke dunia. 

Baca juga: DAFTAR Polsek di Bawah Jajaran Polrestabes Medan, Berikut Alamat Lengkapnya

Secara keseluruhan Hariara Sundung di langit melambangkan terjadinya (lahirnya) manusia ke dunia ini sebagai manusia yang diberkati Tuhan Maha Pencipta, dengan demikian manusia harus ingat akan tuhannya sebagai perncipta langit dan bumi.

Berteduh di bawah pohon ini teramat sejuk rasanya. Pohon ini ditanam di para leluhur di perkampungan sebagai simbol Parhutaan atau perkampungan asli orang Batak. 

Disebut sundung di langit karena tumbuh tegak lurus mengararah ke langit dan akarnya kuat mengikat ke bumi. Akar-akarnya sebagian menggantung dan terjalin hingga menguntai ke bawah. 

Dahannya bercabang-cabang ke Kedelapan arah penjuru mata angin.

Arah mata angin dalam bahasa batak disebut sebagai (Desa na Ualu) yaitu Timur (Purba/Habinsaran), Tenggara (Anggoni), Selatan (Dangsina), Barat Daya (Nariti), Barat (Pastima/ Hasundutan), Barat Laut (Manabia), Utara (Otara), Timur Laut (Irisanna).

(Jun-tribun-medan.com)

 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
193 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved