Tribun Medan Wiki

Cut Novita, Jadi Peneliti Sastra Fenimisme Asal Sumatera

Bukan seorang yang menghakimi baik buruknya karya-karya sastra. Justru, kritikus sastra adalah orang yang sangat mengapresiasi karya karya sastra. 

Editor: ayu prasandi
HO
Cut Novita Srikandi 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Menjadi seorang kritikus dan peneliti karya sastra di Indonesia tak semudah dibayangkan.

Karena, menjadi kritikus dan peneliti karya sastra dari berbagai sudut, terlebih dahulu harus cinta kepada karya sastra.

Pasalnya, bila tak mencintai karya sastra, bagaimana seorang peneliti dan kritikus untuk mengkritik atau meneliti sebuah karya sastra. 

Begitu juga yang dilakukan seorang perempuan bernama Cut Novita Srikandi, kelahiran Blang Jrun, 10 November 1988.

Ia menjadi seorang peneliti karena jatuh cinta terhadap karya sastra, terutama karya sastra feminisme.

Hal itu juga tak terlepas melihat perempuan Indonesia merupakan orang yang hebat-hebat. Seperti Cut Nyak Dien dan R A Kartini, yang merupakan patron perempuan Indonesia yang hebat. 

Baca juga: Batukarang Karo, Desa Penghasil Tembakau, Salah Satu Bahan untuk Menyuntil

"Aku sendiri, tertarik kajian feminisme dalam karya sastra. Karena karya sastra menyuarakan perempuan hebat Indonesia, yang tak banyak dikenal masyarakat kita. Bukan hanya Cut Nyak Dhien dan R A Kartini saja,

tetapi banyak juga di luar sana perempuan hebat, dan itu hanya disuarakan melalui karya sastra. Jadi aku di situ tertariknya mengkaji karya sastra dalam perspektif feminisme," tuturnya, Sabtu (17/4/2021) 

Selain itu, tertariknya ia juga dalam hal itu, karena seorang Cut Novita ingin mengeksplor peran perempuan itu tidak dikelas duakan.

Baca juga: Kapan Datangnya Malam Lailatul Qadar? 10 Malam Terakhir Ramadhan 1442 H, Berikut Ini Gambarannya

Melainkan, perempuan juga bisa berperan banyak dalam hal apapun. Dan, hal itu terlihat dari sebuah karya sastra, yang harus dikaji dalam pendekatan ilmu sastra dan hasil kajiannya dishare.

Agar, masyarakat mengetahui makna dan maksud dari karya sastra tersebut. 

Sementara itu, Cut Novita juga mengatakan bila sebagai perempuan tidak bisa menyuarakan nasibnya sendiri, siapa lagi yang akan menyuarakan hal itu.

Maka, melalui karya sastra banyak menyuarakan tentang kehebatan peremuan.

Bahkan, ia juga menyampaikan banyak juga lahir aktifis-aktifis feminisme dari orang-orang sastra. 

"Dahulu juga pertama kali, kita mengetahui permasalahan ketimpangan gender itu antara perempuan dan laki-laki diketahui dari sebuah karya sastra.

Jadi, yang juga menyuarakan adalah aktifis-aktifis feminisme dari orang-orang sastra. Makanya saya juga ingin fokusnya menjadi aktifis feminisme," ujarnya. 

Baca juga: 5 Sastrawan Terkenal yang Berasal dari Sumatera Utara

Disamping itu, ia juga sebagai donsen di suatu kampus, menjelaskan bahwasanya di Indonesia masih banyak permasalahan perempuan di Indonesia masih banyak.

Oleh karena itu, ia ingin memecahkan permasalahan itu melalu pengkajian karya-karya sastra feminisme. 

"Jadi di situ juga yang membuat aku sangat tertarik mengkaji karya sastra feminisme," pungkasnya.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
191 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved