Tarian Angguk, Hiburan Rakyat Desa Kolam, Kental Unsur Mistis dan Budaya Eropa

Tarian Angguk ternyata laris manis ditampilkan di pinggiran kota, diantaranya Desa Kolam, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang sejak tahun 1959.

Editor: ayu prasandi
HO
Penampilan tarian Angguk dengan menampilkan beragam jenis tarian yang memiliki gerakan yang berbeda di setiap tariannya. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN-  Suku Jawa memiliki beraneka ragam kebudayaan baik musik maupun tarian yang begitu kental dengan nilai sejarahnya. 

Namun, selain seni pertunjukan Kuda Kepang, banyak masyarakat khususnya di Sumatera Utara yang masih asing dengan Angguk, seni pertunjukan dari Jawa. 

Sama seperti pertunjukan seni lainnya, Pertunjukan Angguk diiringi dengan beragam instrumen musik seperti Gedor, Keyboard, Gendang, dan Gong.

Jarang dipertunjukkan di perkotaan, Tarian Angguk ternyata laris manis ditampilkan di pinggiran kota, diantaranya Desa Kolam, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang sejak tahun 1959.

Baca juga: Siantar Hotel, Bangunan Sejarah dan Miliki Cerita Misteri Terowongan yang Belum Terungkap

Biasanya, Angguk dimainkan saat ada pagelaran maupun pernikahan di suatu daerah yang diundang oleh para tuan rumah agar suasana acara tampak meriah.

Berbeda dengan di pulau Jawa yang hampir seluruh pemainnya perempuan, untuk di Sumatera Utara dimainkan oleh perempuan dan laki-laki secara berpasangan.

Dan lebih menarik lagi, di beberapa kesempatan para penari akan memakai baju ala tentara Belanda lantaran tarian ini muncul sudah sejak zaman Belanda yang menggambarkan makna ucapan syukur kepada Tuhan setelah panen padi. 

Pada zaman dulu, untuk menggambarkan rasa syukur, para pemuda-pemudi di zaman dulu bersukaria sambil bernyanyi dengan mengangguk-anggukkan kepala. 

Selain kostum yang unik, perpaduan budaya juga tampak terlihat dari alat musik, gerakan, serta cerita yang tak jarang mengandung unsur mistis.

Baca juga: Dwi Arimbi Lubis Atlet Wushu Taulo, Akan Bertanding di PON Papua

Saat berjalannya pertunjukan, para penari Angguk akan memulai ritual dengan menggunakan kemenyan untuk dapat kerasukan, sama seperti kuda kepang. 

Berdasarkan informasi dari Penari, Laksmi mengungkapkan bahwa bagian dari adegan kerasukan merupakan puncak dari acara tarian Angguk yang menjadi bagian favorit para penonton. 

Biasanya, adegan kerusupan dimasukkan saat menjelang tengah malam.

Para penari akan semakin liar memainkan aksi tarian dengan energik ketika memakan sesajen dan menghirup asap kemenyan.

Unsur ini hanya sebagai hibur semata dengan membuktikan bahwa ada makhluk lain selain manusia di muka bumi ini.

Adapun kesenian Angguk ini memiliki 25 jenis tarian, diantaranya tari Eh Salam, tari Dengan Hormat, Trisnowati, Umar Moyo, Jairiya, dan Pandawa Lima.

Baca juga: Legenda Lau Kawar, Kisah Kesalahpahaman Yang Berujung Petaka

Masing-masing lagunya ada makna untuk menjelaskan kisah-kisah perwayangan pada zaman dahulu.

Hingga saat ini, Desa Kolam masih memiliki Sanggar tarian Angguk untuk dapat melestarikan dan melatih para pemuda setempat agar tradisi tarian puluhan tahun ini dapat terus berjalan.

(cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
178 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved