Tribun Medan Wiki

Meriam Puntung, Peninggalan Sejarah Legenda Putri Hijau Yang Sampai Ke Karo

Dan jika pengunjung datang dari Kota Medan, akses jalannya mulai dari Desa Tongkoh menuju Jalan Barusjahe. Dapat ditempuh sekira 2,5 jam.

Editor: ayu prasandi
TRIBUN MEDAN/ANIL
Juru Kunci Meriam Puntung melakukan pembersihan, di Desa Sukanalu, Kecamatan Barusjahe 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Indonesia dan seluruh daerahnya, dikenal memiliki sejarah yang luar biasa.

Tak hanya sejarah perjuangan, namun sejarah kisah dan legendanya juga hingga saat ini masih termasyur di masyarakat.

Untuk di Sumatera Utara sendiri, juga memiliki banyak cerita sejarah hingga menjadi legenda di beberapa daerah.

Salah satu cerita yang menjadi legenda cukup tersohor ialah legenda putri hijau.

Dari cerita ini, sampai saat ini masih dapat dilihat peninggalan sejarahnya yaitu meriam puntung.

Selain yang ada di Istana Maimun Medan, penanggalan sejarah ini juga ada di Kabupaten Karo, tepatnya di Desa Sukanalu, Kecamatan Barusjahe.

Lokasi ini, berjarak sekitar 20 Kilometer dari kawasan wisata Berastagi.

Dan jika pengunjung datang dari Kota Medan, akses jalannya mulai dari Desa Tongkoh menuju Jalan Barusjahe. Dapat ditempuh sekira 2,5 jam.

Baca juga: Kedai Kopi Apek, Sudah Ada Sejak 102 Tahun Lalu di Kota Medan

Amatan www.tribun-medan.com, lokasi meriam tersebut terletak di ujung desa, dan dinaungi oleh pepohonan yang ukurannya cukup besar.

Saat ini meriam tersebut disimpan di dalam sebuah tempat yang dikelilingi oleh jerjak besi.

Berdasarkan informasi dari juru kunci lokasi tersebut Maslela bru Tarigan, pecahan meriam ini merupakan bagian dari meriam yang ada di halaman Istana Maimun, Medan.

Dirinya menyebutkan, awal mula meriam puntung ini bermula dari cerita Putri Hijau yang terlahir Desa Seberaya, dekat hulu Sungai Petani (Sungai Deli).

Dalam cerita itu disebutkan Sang Puteri memiliki dua saudara kembar, Mambang Yazid dan Mambang Khayali.

Mambang Yazid dapat menjelma menjadi seekor naga yang disebut Ular Simangombus. Sedangkan Mambang Khayali bisa berubah menjadi meriam yang kemudian dikenal dengan sebutan Meriam Puntung.

"Jadi si putri ini mau dilamar sama anak raja, tapi si putri minta syarat sama anak raja harus memberi makan salah satu turangnya (saudaranya) hati lembu setiap hari.

Tapi kan lama kelamaan jadi habis, karena itu dia pergi ke Hamparan Perak," ujar Maslela.

Baca juga: 5 Penyanyi Asal Sumut yang Terkenal Lewat Ajang Pencarian Bakat

Dirinya mengungkapkan, setibanya di Hamparan Perak sang putripun dijemput oleh seorang pria kerajaan yang berasal dari Aceh.

Melihat sang kecantikan sang putri, pria tersebut langsung jatuh hati dan ingin mempersuntingnya.

Namun sayang, lamaran itu ditolak oleh sang putri, kemudian Sultan Aceh pun murka.

Ia merasa diri dan kerajaannya dihina, kemudian menurunkan bala tentara dan membombardir Kesultanan Deli.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
176 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved