Tribun Medan Wiki

Legenda Lau Kawar, Kisah Kesalahpahaman Yang Berujung Petaka

Tidak ada lauk yang bisa dimakan. Sontak saja ia yang tengah merasa sangat lapar, menangis di hadapan bungkusan itu.

Editor: ayu prasandi
TRIBUN MEDAN/GITA
Lau Kawar 

TRIBUN-MEDAN.com, KARO- Objek Wisata Danau Lau Kawar yang terletak di Kuta Gugung, Naman Teran, Kabupaten Karo menjadi salah satu tempat wisata primadona di Kabupaten Karo.

Danau yang memiliki luas lebih kurang 200 Ha itu kerap dijadikan kawula muda menjadi tempat berkamping, dan berlibur bersama keluarga sebab memiliki udara yang sejuk dan diapit oleh pepohonan rindang.

Namun siapa sangka, dibalik keindahan dan pesonanya, rupanya terdapat kisah sedih yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai awal mula terbentuknya Danau Lau Kawar.

Diriwayatkan, bahwa dahulu sebelum Danau Lau Kawar berbentuk seperti saat ini, danau itu adalah sebuah desa yang bernama Kawar.

Desa tersebut merupakan kawasan pertanian yang sangat subur sehingga hampir seluruh masyarakatnya bekerja sebagai petani yang makmur.

Hasil pertanian warga pun selalu melimpah ruah, dan jika waktu panen tiba seluruh warganya akan mengadakan pesta adat sebagai bentuk rasa syukur.

Baca juga: Tao Sidihoni, Berubah Warna Pertanda Harus Waspada

Namun suatu hari terjadi malapetaka terhadap desa itu, hingga tenggelam dan berubah menjadi sebuah danau, hal itu terjadi karena kesalahpahaman.

Cerita dimulai saat desa Kawar tengah panen, para petani untung besar karena panen yang melimpah ruah, bahkan saat itu lumbung-lumbung warga  penuh dengan padi.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk merayakan panen besar, Desa mengadakan Pesta Adat sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta. 

Pesta adat itu wajib dihadiri oleh seluruh warga, jika ada warga yang lebih memilih bekerja di ladang daripada menghampiri pesta adat, konon akan diberi sangsi adat, sehingga pesta itu menjadi bagian yang sangat penting bagi warga desa Kawar.

Biasanya pesta digelar di Balai besar desa atau akrab disebut masyarakat Karo sebagai Jambur.

Namun, bagi orangtua yang sudah sakit-sakitan dan tidak bisa berjalan tidak dipaksakan untuk mengikuti pesta, namun makanan di pesta itu akan diantar kepada mereka, agar ikut serta menikmati pesta.

Saat itu, Pesta adat pun berlangsung semarak, dimeriahkan dengan tari-tarian serta berbagai hidangan lezat.

Di momen itu pula para warga yang setiap hari bekerja, memanfaatkan dengan bercengkrangan bersama teman dan sanak saudara.

Baca juga: Sereh, Miliki Khasiat untuk Tubuh

Namun, dibalik kemeriahan itu, seorang nenek tua renta yang tengah sakit parah hanya dapat terbaring lemah di rumah.

Ia hanya dapat melihat anak, menantu dan  cucunya pergi ke pesta itu. Nenek itu sangat ingin ikut bersama keluarganya, namun apa daya untuk berjalan saja ia kesulitan sehingga harus tinggal sendiri di rumah.

Saat makan siang tiba, semua warga menyantap berbagai hidangan yang disajikan, beragam daging hingga kue-kue pun disajikan.

Namun sayangnya keluarga itu lupa bahwa neneknya tidak ikut ke pesta dan tengah terbaring kelaparan di rumah.

Sementara itu, nenek sudah merasa sangat lapar, tetap sabar menanti kehadiran keluarganya mengantarkan makanan pesta untuknya.

Namun sekian lama ia menunggu hingga lewat jam makan siang, tidak ada seorang pun yang datang.

Baca juga: Kisah Letjen Djamin Ginting, Komandan Perang Gigih dari Tanah Karo

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
171 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved