Tribun Medan Wiki

Begini Sejarah Bangunan Balai Kota Lama Medan yang Kini Jadi Hotel Grand City Hall Medan

Kota Medan memiliki banyak bangunan - bangunan bersejarah di masa Kolonialisme. Satu di antaranya bangunan Balai Kota Lama Medan yang kini jadi Hotel

Tribun-medan/HO
Bangunan Hotel Grand City Hall Medan yang dahulunya merupakan bangunan Kantor Balai Kota Lama Kota Medan, Jalan Balai Kota Medan, Kota Medan, Senin (4/1/2021) . 

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRIBUNMEDANWIKI.com - Kota Medan memiliki banyak bangunan-bangunan bersejarah di masa Kolonialisme.

Satu di antaranya bangunan Balai Kota Lama Medan yang menjadi Hotel Grand City Hall Medan.

Meskipun saat ini menjadi bagian bangunan dari Hotel Grand City Hall Medan, estetika bangunan tersebut masih terjaga, Senin (4/1/2021).

Director of sales & marketing Hotel Grand City Hall Medan, Lisa ngadio, menceritakan, bangunan yang berdiri kokoh di depan hotel merupakan bangunan Balai Kota Lama Medan yang terletak di sisi barat lapangan Merdeka. Bangunan tersebut mulai dibangun pada tahun 1906 oleh kantor Konsultan Arsitektur Hulswit & Fermont, Weltevreden, yang bekerjasama dengan konsultan Ed Cuypers dari Amsterdam.

Nuansa di Ruangan Dheritage yang berada di gedung Balai Kota Lama Kota Medan yang merupakan bagian dari Grand City Hall Medan, Senin 4 Januari 2021
Nuansa di Ruangan Dheritage yang berada di gedung Balai Kota Lama Kota Medan yang merupakan bagian dari Grand City Hall Medan, Senin 4 Januari 2021 (Tribun-medan/HO)

Bangunan Balai Kota Lama Medan, dari masa kolonialisme memang berdiri bersebelahan dengan gedung Bank Indonesia. Pada awalnya bangunan tersebut diperuntukkan kantor Javasche Bank. Kemudian dibeli oleh Dewan Kota Medan, sebagai tempat kantor mereka.

Sejak saat itulah daerah sekitar bangunan Balai Kota menjadi pusat kegiatan komersial. Selain itu, menjadi kawasan tempat tinggal orang-orang Eropa yang bekerja sebagai pegawai dan pengusaha perkebunan. Pada masa itu, dewan Kota Medan dibentuk sejak tahun 1909 dan mayoritas anggota adalah orang Eropa.

Seiring dengan perkembangan Kota Medan, pada tahun 1917 Dewan Kota membuka kesempatan bagi orang Pribumi, Tionghoa dan India untuk menjadi anggota dewan. Pada tahun 1918, Baron Mackay terpilih menjadi Walikota pertama kota Medan.

Lalu, beliau menggunakan gedung Balai Kota untuk pertama kalinya. Selanjutnya, di tahun yang sama juga dilakukan pemungutan suara untuk memilih wakil orang pribumi dan Tionghoa. Raja Gunung dan Muhammad Syaaf terpilih menjadi anggota dewan kota, mewakili orang pribumi dan Tan Boen An untuk etnis tionghua.

Kemudian pada tahun 1913, seorang pengusaha Tionghoa yang bernama Tjong A Fie menyumbangkan sebuah jam besar yang dibuat oleh Van Bergen Firm untuk dipasang di kubah Balai Kota. Sampai saat ini, jam yang merupakan sumbangan dari Tjong A Fie masih berfungsi dan masih dipakai di Hotel Grand City Hall Medan.

Kolam Renang di Hotel Grand City Hall Medan, Kota Medan, Senin 4 Januari 2021.
Kolam Renang di Hotel Grand City Hall Medan, Kota Medan, Senin 4 Januari 2021. (Tribun-medan/HO)
Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved