Tradisi Mangokal Holi

Tradisi Mangokal Holi dulunya berasal dari kultur Batak pra-Kristen yang menganggap hal itu perlu sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada orang

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Tribun-medan/HO Sportourism.id
Foto Upacara Tradisi Mangokal Holi yang ada di Sumatera Utara, Rabu 14 Oktober 2020 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Sumatra Utara merupakan provinsi yang memiliki berbagai suku dan agama. Maka wajar sekali, tardisi di Sumatra Utara (Sumut) sangat kaya. Satu di antaranya tradisi Mangokal Holi yang ada di kawasan Sumut.

Berdasarkan data Jurnal yang ditulis oleh Asfika Yogi Hutapea, bertajuk Upacara Mangokal Holipada Masyarakat Batak di Huta Toruan, Kecamatan Banuarea, Kota Taruntung. Mengatakan, bahwa Tradisi Mangokal Holi dulunya berasal dari kultur Batak pra-Kristen yang menganggap hal itu perlu sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada orang tua atau leluhur.

Seperti dengan meninggikan posisi tulang-belulang di atas tanah, khusunya di bukit yang tinggi dengan batu yang keras. Upacara Mangokal Holi yang artinya menggali kubur adalah salah satu upacara yang dianggap sakral bagi kehiduan masyarakat Batak Toba. Upacara Mangokal Holi ini memiliki proses panjang mulai dari penggalian hingga pada proses pesta yang membutuhkan waktu sangat panjang hingga ber hari-hari lamanya.

Lamanya proses penggalian sampai acara pemestaan maka akan terjalin kembali sistem kekerabatan dari generasi yang tertua sampai termuda. Upacara Mangokal Holi ini bertujuan untuk mendapatkan Hagabean, Hasangapan dan Hamoraon (panjang umur, kehormatan, dan kekayaan). Meskipun zaman terus berubah namun tradisi ini tetap dipertahankan hingga saat ini.

Kemudian, dari artikel jurnal yang ditulis oleh Fransiska Dessy Putri meyampaikan Setelah acara Mangongkal Holiselesai dilaksanakan. Acara dirumah sepulang dari kuburan adalah doa bersama. Untuk doa bersama tersebut didahului dengan makan bersama.

Baca juga: Tarian Berahoi Melayu

Dalam makan bersama pihak kelurga yang melaksanakan upacara mangongkal holi menyembelih seekor kerbau untuk lauk. Tudu-tudu ni sipanganon di persembahkan pada hula-hula pemberi ulos panampin. Doa makan dipimpin oleh salah seorang dongan sabutuha.

Secara makna Significance dalam Upacara Mangongkal Holi bagi Masyarakat Batak Toba di Desa Simanindo Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara. Significance merupakan menunjukkan arti suatu istilah, tidak hanya maka yang melekat pada benda dalam upacara mangongkal holi.

Pengungkapan makna-makna yang terdapat dari simbol-simbol dari upacara mangongkal holi sesungguhnya akan dikaji lebih dengan cara memahami bagaimana pemaknaan upacara mangongkal holi secara keseluruhan dimana mangongkal holi dimaknai sebagai nilai-nilai tertentu.

Sambungnya, ditinjau dari adat upacara Mangongkal Holi yang dimulai dari Martonggo raja, acara Mangongkal Holi, dan acara sepulang dari kuburan (makan bersama dan doa) maka akan terlihat nilai-nilai agama atau religi yang dianut masyarakat Batak Toba di Desa Simanindo.

Hal ini dapat dilihat dari simbol-simbol maupun kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan nilai agama tersebut, antara lain, pertama, ibadah merupakan doa dan nyanyian pujian yang di panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar acara yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar.

Baca juga: Jongkong, Penganan Khas Melayu saat Ramadan

Kedua, simbol ulos memiliki nilai keagamaan karena sebelum dibuat/ditenun terlebih dahulu berdoa kepada Tuhan, oleh karenanya ulos memiliki nilai keimanan bagi pembuat, pemberi dan penerimanya. Ketiga, ulos juga menjadi simbol penyatuan antara manusia dengan Tuhan, yaitu dalam halpenyampaian doa dan harapan, karena disetiap pemberian Ulosselalu dilapisi dengan doa dan yang menerima ulos. tersebut kiranya memperoleh pengharapan dari Tuhan.

Sumber:

- Jurnal Makna Simbolik Upacara Mangongkal Holi Bagi Masyarakat Batak Toba di Desa Simanindo Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara, oleh Fransiska Dessy Putri.

- Jurnal yang ditulis oleh Asfika Yogi Hutapea, bertajuk Upacara Mangokal Holipada Masyarakat Batak di Huta Toruan, Kecamatan Banuarea, Kota Taruntung.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved