Sitor Situmorang

Sumatera Utara tak melahirkan seorang pahlawan ternama saja, tetapi juga melahirkan seniman dan sastrawan yang tershoro di masanya. Yakni, Sitor Situm

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
wikipedia.com
Sitor Situmorang Merupakan Sastrawan Berdarah Batak Asal Sumatra Utara, Rabu (14/10/2020) 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Sumatera Utara tak melahirkan seorang pahlawan ternama saja, tetapi juga melahirkan seniman dan sastrawan yang tershoro di masanya.

Yakni, Sitor Situmorang yang merupakan sastrawan berdarah batak asal Sumatra Utara. Selain seorang sastrawan ia juga seorang jurnalis ternama.

Lahir di Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, pada 2 Oktober 1924.

- Sepintas Karier Sitor Situmorang

19 tahun Sitor Situmorang menjadi seorang pemimpin redaksi dari harian Suara Nasional terbitan Sibolga. Padahal, ia sama sekali belum pernah bersentuhan dengan profesi jurnalistik. Sastrawan yang dikelompokkan angkatan 45 ini, kemudian bergabung dengan Kantor Berita Nasional Antara, di Pematang Siantar. Lalu di tahun 1947, atas permintaan resmi dari Menteri Penerangan, Muhammad Natsir, Sitor menjadi koresponden Waspada. Yakni, sebuah harian lokal terbitan kota Medan, Sumatera Utara. Ia pun ditugaskan menempati pos di Yogyakarta.

Jika di kemudian hari persepsi tentang diri Sitor Situmorang identik sebagai sastrawan Angkatan ’45 yang kritis, bahkan menjadi susah memilah-milah apakah ia seorang sastrawan, wartawan, atau politisi, agaknya bermula dari kisah sukses besarnya sebagai wartawan saat berlangsung Konferensi Federal di Bandung, tahun 1947.

Berdasarkan data yang dilangsir dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ia hadir bermodalkan tuksedo pinjaman dari Rosihan Anwar. Saat itu nama wartawan muda berusia 23 tahun ini begitu fenomenal, bahkan menjadi buah bibir hingga ke tingkat dunia. Ia berhasil melakukan wawancara dengan Sultan Hamid, tokoh negara federal bentukan Negeri Belanda, yang sekaligus menjadi ajudan Ratu Belanda.

Kesuksesannya bukan sekedar karena berhasil menembus narasumber, Sultan Hamid, melainkan karena materi wawancara itu memang sangat menarik. Menjelang usianya genap 80 tahun, Sitor mempersiapkan perayaan ulang tahun dengan matang. Ia merayakannya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Acaranya, antara lain, pameran puluhan kumpulan puisi dan berbagai dokumentasi tentang kontribusinya dalam peta perjalanan sastra dan politik di Tanah Air.

Bahkan, beberapa hari sebelumnya, 27 September 2004, ia memperkenalkan karya-karya puisinya yang belum pernah dikenal orang. Apakah itu barupa puisi karya terbaru atau puisi lama yang sama sekali belum pernah dikenal orang. Maklum, siklus kepenyairan Sitor Situmorang, yang menikah untuk yang kedua kalinya dengan seorang diplomat berkewarnegaraan Belanda, Barbara Brouwer, yang memberinya satu orang anak, Leonard, sudah berbilang setengah abad lebih.

Baca juga: Feisal Edno Tanjung

Dari istri pertama, almarhumah Tiominar, ia mempunyai enam orang anak, yakni Retni, Ratna, Gulon, Iman, Logo, dan Rianti. Semenjak tahun 1950-an karya-karya sastranya sudah mengalir ringan begitu saja. Pada tahun 1950-an itu, ia pulang dari Eropa sebagai wartawan, lalu memutuskan berhenti dan bergiat sebagai sastrawan. Kumpulan puisi pertamanya terbit tahun 1953, diterbitkan oleh Poestaka Rakjat, pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana (STA).

Ia begitu hafal setiap karya puisinya. Malah, beberapa orang sahabatnya sesama sastrawan, seperti almarhum Arifin C. Noor, almarhum W.S. Rendra, dan sastrawan asal Madura Zawawi Imron, menyapanya dengan melafalkan petikan puisi karya Sitor sebagai sapaan salam. Dari lafal petikan itu pula Sitor kenal siapa nama dan identitas orang yang menyapanya.

Beragam karya sastra Sitor yang sudah diterbitkan, antara lain, Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954), cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan terjemahan karya dari John Wyndham, E Du Perron RS Maenocol, M Nijhoff. Karya sastra lain, yang sudah diterbitkan, antara lain puisi Zaman Baru (1962), cerpen Pangeran (1963), dan esai Sastra Revolusioner (1965).

Namun karena Esai Sastra Revolusioner inilah yang mengakibatkan Sitor Situmorang harus mendekam di penjara Gang Tengah Salemba (1967-1975), Jakarta tanpa melalui proses peradilan. Ia dimasukkan begitu saja ke dalam tahanan dengan tuduhan terlibat pemberontakan. Selain karena isi esai Sastra Revolusioner yang sarat dengan kritik-kritik tajam, posisinya sebagai Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) periode 1959-1965, sebuah lembaga kebudayaan di bawah naungan PNI, membuat rezim merasa berkepentingan untuk “menghentikan” kreativitas Sitor.

Baca juga: Tradisi Mangokal Holi

Oleh karena itu, ia dengan ringan menyebutkan, “Mungkin karena saya anti-Soeharto saja,” sebagai alasan mengapa ia harus mendekam di penjara Salemba selama delapan tahun. Sampai saat keluar dari tahanan pun, Sitor tak pernah tahu apa kesalahannya. Pada saat masuk tahanan, Sitor tak diizinkan membawa pulpen atau kertas. Namun, selama berada dalam penjara, Sitor tetap berkarya. Singkat kisah Sejak tahun 2001 Sitor Situmorang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Indonesia mengikuti istrinya Barbara Brouwer yang kebetulan mendapat tugas di Jakarta.

Meskipun dua pertiga dari usianya dihabiskannya di negeri orang, para sahabat, kolega, teman sejawat, seniman, sastrawan, dan budayawan lain tidak pernah menganggap Sitor sebagai “anak yang hilang”. Mereka, seperti Adjip Rosidi, Onghokham, Fuad Hasan, Djenar Maesa Ayu, Ramadhan KH, Richard Oh, Rieke Diah Pitaloka, Sitok Srengenge, HS. Dillon, Teguh Ostenrijk, Srihadi Soedarsono, dan Antonio Soriente, tetap menyambut hangat kepulangan Sitor Situmorang. Mereka, menganggap tak beda seperti menemukan teman yang sudah lama tak berjumpa. Singkat cerita, pada tahun 2014 tepat pada tanggal 21 Desember, Sitor Situmorang tutup usia di Apeldoom, Belanda, pada usia 91 tahun.

Karya-karya Sitor Situmorang:

- Puisi

Surat Kertas Hijau (1953)
Dalam Sajak (1955)
Wajah Tak Bernama (1955)
Zaman Baru (1962)
Dinding Waktu (1976)
Peta Perjalanan (1977)
Angin Danau (1982)
Bunga di Atas Batu (1989)
Rindu Kelana (1993)
The Rites of the Bali Aga (2001)
Biksu Tak Berjubah (2004)
Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak (1948—1979)
Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak (1980—2005)

- Cerita Pendek

Pertempuran dan Salju di Paris (1956)
Pangeran (1963)
Danau Toba (1981)
Salju di Paris (1994)
Kisah Surat dari Legian (2001)

Halaman selanjutnya

- Cerita Anak

...

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
133 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved