Markusip Tradisi Etnis Mandailing

Markusip merupakan kegiatan yang dilakukan oleh muda-mudi untuk lebih mengenal lawan jenisnya. Bisa dibilang ini gaya pacaran zaman dulu, Rabu (14/10)

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Tribun-medan/HO Batak.network.blogspot
Rumah Adat Mandailing di Sumatera Utara, Rabu (14/10/2020) 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Berdasarkan Sepengatahuan Sejarawan Kota Medan, Muhammad Azis Rizky Lubis, mengatakan tradisi markusip ini sebenarnya di beberapa wilayah di Sumatera Utara ada.

Di komunitas Masyarakat Mandailing misalnya, Markusip merupakan kegiatan yang dilakukan oleh muda-mudi untuk lebih mengenal lawan jenisnya. Bisa dibilang ini gaya pacaran zaman dulu.

Markusip dalam Bahasa Indonesianya yakni Berbisik. Laki-laki yang ingin mengenal seorang perempuan dari kampung sebelah datang di malam hari, tentu sebelumnya sudah mendapatkan izin dari tetua kampung atau kepala adat.

Sebelumnya, izin di dapat ketika ada pelaksanaan pesta yabg digelar di kampung yang dimaksud.

Setelah mendapat izin, barulah si laki-laki boleh martandang (bertandang) ke rumah si perempuan. Dalam melakukan markusip, Laki-laki harus tau dimana letak kamar si perempuan. Markusip atau berbisik dilakukan di dekat jendela kamar, atau di kolong rumah yang menjadi lantai kamar si perempuan.

Melakukan komunikasi dengan cara berbisik dilakukan agar tidak mengganggu penghuni rumah yang lain. Dalam percakapannya, biasanya diselipkan kata-kata indah yang bisa membuat antara si laki-laki dan perempuan semakin tertarik.

Lalu, menurut pandangan Muhammad Azis Rizky Lubis, tradiai markusip semakin punah ketika kecanggihan teknologi mulai muncul. selain itu, berubahnya bentuk rumah masyarakat yang semula berpanggung kemudian menjadi tidak berpanggung. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab semakin punahnya markusip ini.

Baca juga: Tradisi Mangokal Holi

Baca juga: Tarian Berahoi Melayu

Selanjutnya, dilangsir dari artikel yang ditulis Miftah Roma Uli Tua dalam kanal resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Markusip merupakan sebuah aktivitas memadu kasih yang biasa dilakukan oleh muda-mudi di Tapanuli Selatan pada masa lalu.

Markusip merupakan sebuah tradisi lama yang telah menyebar dan diwariskan dari generasi kegenerasi berikutnya secara lisan dengan bentuk yang relatif tetap. Tidak ada yang mengetahui siapa orang pertama yang menciptakannya hingga dianggap sebagai milik bersama oleh masyarakat Mandailing dan Angkola yang mendiami Tapanuli bagian Selatan, Provinsi Sumatera Utara.

Markusip merupakan suatu tradisi yang unik. Markusip hanya bisa dilakukan pada malam hari hingga larut dengan diam-diam dan serahasia mungkin, tidak dapat dilakukan pada siang hari. Tradisi ini kemungkinan hanya ditemukan pada etnik Mandailing dan Angkola saja, karena dari sekian banyak etnik yang mendiami wilayah Provinsi Sumatera Utara, tidak ditemukan tradisi yang serupa dengan tradisi markusip ini. Tentu sangat menarik untuk membicarakan tradisi markusip ini sebagai bagian dari keragaman khasanah kebudayaan etnik Nusantara.

Didalam teknis pelaksanaannya, Markusip tidak lepas dari aturan adat-istiadat yang berlaku pada masyarakat Mandailing dan Angkola. Tradisi markusip ini berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui proses belajar kebudayaan, yang berlandaskan kepada konsep-konsep, nilai-nilai, aturan-aturan, maupun norma-norma yang berlaku dan dianut oleh masyarakat Tapanuli Selatan.

Baca juga: Kota Maksum

Orang Mandailing dan Angkola di masa lampau hidup dengan aturan adat yang ketat. Hampir semua aspek kehidupan warganya diatur oleh nilai-nilai budaya atau adat-istiadat, termasuk dalam urusan pergaulan antara muda-mudi. Adat-istiadat mereka di masa lampau memantangkan pergaulan bebas antara muda-mudi, sehingga proses penjalinan kasih atau percintaan antara seorang pemuda dengan seorang gadis harus dilakukan degan berlandaskan nilai-nilai budaya. Dalam konteks seprti itulah praktik markusip tumbuh dan berkembang menjadi tradisi pergaulan muda-mudi di Tapanuli Selatan.

Tradisi markusip telah hilang dari tengah-tengah masyarakat Tapanuli Selatan masa kini. Tulisan ini diharapkan dapat memberi pengayaan terhadap pengetahuan mengenai suatu tradisi masyarakat yang sudah punah, dalam hal ini tradisi markusip sebagai bagian dari tradisi pergaulan muda-mudi di kalangan masyarakat Mandailing dan Angkola di Tapanuli Selatan.

Sumber:

- Sejarawan Kota Medan, Muhammad Azis Rizky Lubis.
- Dilansir dari Artikel yang Ditulis Miftah Roma Uli Tua dalam Kanal Resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved