Feisal Edno Tanjung

Feisal Edno Tanjung merupakan tokoh meliter asal Sumatera Utara. Ia dikenal dengan nama Feisal Tanjung, lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
zoom-inlihat foto Feisal Edno Tanjung
Tribunnews
Feisal Tanjung Tokoh Meliter Asal Sumatra Utara, Rabu (14/10/2020)

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Feisal Edno Tanjung merupakan tokoh meliter asal Sumatera Utara. Ia dikenal dengan nama Feisal Tanjung, lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 17 Juni 1939 – meninggal di Jakarta, 18 Februari 2013 pada usia 73 tahun. Feisal Tanjung merupakan putra kelima dari pasangan Amin Husin Abdul Mun’in Tanjung dengan Siti Rawani Hutagalung.

Ia adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara, ia merupakan satu-satunya anak dalam keluarganya yang lahir di Tarutung, sedangkan yang lain lahir di Sibolga.

Sejak kanak-kanak ia ingin menjadi tentara, sebagaimana keinginan anak-anak Sibolga pada umumnya yang dalam kesehariannya sangat akrab dengan pantai, ombak, dan sering bertemu dengan prajurit Angkatan Laut.

Awalnya ia berminat menjadi tentara AL. Keinginan itu pun tumbuh seiring dengan seringnya ia membaca tentang tokoh pelaku perjuangan serta kisah pertempuran yang heroik.

Apalagi kondisi perang pasca kemerdekaan yang dialaminya waktu kecil, membuat Feisal remaja tertarik pada dunia kemiliteran, terutama Angkatan Laut.

Ketika duduk di kelas tiga SMP Feisal diam-diam pernah mendaftarkan diri menjadi aspiran kadet Akademi Angkatan laut (AAL) tanpa sepengetahuan orang tuanya. Ketika itu Akademi Angkatan Laut menerima tamatan SMP untuk menjadi aspiran kadet dan tamatan SMA menjadi kadet.

Baca juga: Markusip Tradisi Etnis Mandailing

Baca juga: Tradisi Mangokal Holi

Menurut perhitungan Feisal, jika diterima menjadi aspiran kadet, maka dua tahun kemudian dapat menjadi kadet, sehingga memperoleh keuntungan waktu satu tahun lebih cepat. Sebab jika ia ingin menjadi kadet, ia harus menunggu tiga tahun lagi setelah tamat SMA. Namun akhirnya Feisal ditolak karena tidak memenuhi syarat usia minimal
yang ditetapkan yaitu 16 tahun, ketika itu ia baru berusia 15 tahun.

Selepas tamat SMA, ia mendaftar ke AAL dan juga mengisi formulir pendaftaran masuk AMN tanpa sepengetahuan ayahnya. Ayahnya tidak setuju dengna cita-cita Feisal menjadi tentara karena ayahnya ingin Feisal menjadi
seperti kakak sulungnya, Fahmi, kuliah di Fakultas Kedokteran. Amatlah wajar karena dirasa lebih menjanjikan masa depan dibandingkan dengan profesi militer yang ketika itu pasca restrukturisasi dan rasionalisasi di lingkungan militer yang
meresahkan para prajurit.

Namun bagi Feisal, masuk ke sekolah ikatan dinas pun di sisi lain dapat meringankan beban orang tuanya yang harus membiayai sekolah anak-anaknya. Maka akhirnya kakak sulung Feisal, Fahmi Tanjung-lah yang berdialog dengan sang ayah untuk kemudian merestui pilihan Feisal. Feisal boleh menjadi jagoan renang di pantai, laut ataupun sungai. Namun ternyata garis hidupnya bukan di laut. Ia menerima surat panggilan dari AMN lebih dulu daripada surat panggilan dari AAL yang sebenarnya ia harapkan.

Ia tak dapat mundur lagi dari AMN karena konsekuensinya harus membayar ganti rugi bila mundur. Feisal termasuk yang cukup beruntung, karena dari banyaknya siswa SMA Prayatna yang mendaftar di AMN, hanya Feisal yang lolos seleksi pertama
di tingkat kodam.

Baca juga: Tarian Berahoi Melayu

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved