Tarian Berahoi Melayu

arian Berahoi merupakan gambaran mengirik padi,dimasa panen tiba bagi kalangan masyarakat melayu

Tribun-medan/HO
Proses pengambilan gambar Tari Berahoi mengirik padi di Desa securei, Kabupaten Langkat, Jumat (9/10/2020) 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Setiap suku dan adat memiliki suatu tarian khas tradisionalnya masing-masing. Salah satunya Tarian Berahoi yang dimiliki suku Melayu Langkat.

Menurut Tua angkatan 45 Langkat, penyair, penulis, budayawan, Seniman, Datok Seri Drs. H. Zainal Arifin. AKA, mengatakan Tarian Berahoi merupakan gambaran mengirik padi,dimasa panen tiba bagi kalangan masyarakat melayu.

Dimana kalangan muda-mudi merupakan arena pertemuan,sembari mengirik padi memisahkan antara buah padi dengan jerami bagi kalangan pemudanya.

Sementara kalangan nak daranya,melakukan kegiatan menggerongseng padi muda, lalu sekelompok menumbuk dalam lesung memisahkan isi padi muda dengan kulit untuk dijadikan emping padi. Kemudian sebahagian menampi padi dan sebahagian membakar lemang, sembari bernyanyi dalam berbalas pantun. Itulah yang dilakukan dalam kegiatan Berahoi atau tarian Berahoi.

Selain agar melepas padi dari tangkai cepat selesai, tradisi berahoi dilaksanakan dengan tujuan untuk mempererat pergaulan antar muda-mudi.

Bahkan bukan tidak mungkin diharapkan diantara mereka nantinya ada yang saling jatuh cinta, sampai berlanjut ke pelaminian. Tradisi Berahoi dilakukan pada malam hari.

Ada pembagian tugasnya, Laki-laki mengangkat padi dari tumpukan ke anjaian lalu mengiriknya sambil berpantun, sedangkan yang wanita bertugas mengangkat padi dari bawah anjaian ke tempat lainnya. Anjaian sendiri adalah sebuah wadah yang ditinggikan menggunakan tiang, dimana dasarnya terbuat dari bambu yang dianyam rotan.

Masyarakat Melayu Langkat memang dikenal sebagai masyarakat maritim atau sebagai masyarakat nelayan, yang hidupnya secara ekonomis berlandas kepada hasil-hasil di lautan. Selain sebagai pelaut, sifat masyarakat Melayu Langkat ini juga adalah agraris digambarkan melalui tradisi bertanam padi.

Kegiatan komunal Berahoi pada masyarakat tersebut pada masa lampau menggambarkan kehidupan siklus bertani, seperti tajak, semai, tanam, panen, dan lainnya, serta melalui karya seni budaya berahoi melibatkan upacara istiadat.

Secara historis masyarakat Melayu umumnya menanam padi dengan cara berladang, meskipun pada beberapa tempat mereka turun ke sawah sesuai dengan wilayah hunian. Orang-orang Melayu menamakan bulir-bulir padi (Oryza sativa) dengan nama beras.

Nama ini adalah bulir padi yang telah dikupas kulitnya dan nasi adalah beras yang sudah dimasak. Jenis-jenis padi diklasifikasikan atas dua bagian yakni padi ladang dan padi sawah.

Tradisi Berahoi dalam kebudayaan Melayu Langkat Sumatera Utara berciri dan bercorak pemikiran masyarakat agraris. Kedua bentuk masyarakat ini, yaitu petani dan nelayan secara umum dikategorikan sebagai masyarakat pedesaan (rural). Biasanya Berahoi ini dilakukan masyarkat Melayu di Bahorok Kabupaten Langkat.

Hal ini tentunya karena Masyarakat tradisional Melayu Bahorok pada masa lalu mempunyai tradisi kepercayaan terhadap konsep makrokosmos (jagad raya) dan mikrokosmos (dunia manusia) yang direpresentasikan melalui tradisi lisan Berahoi.

Sumber :
- Tua angkatan 45 Langkat, penyair, penulis, budayawan, Seniman, Datok Seri Drs. H. Zainal Arifin. AKA, M. Si. M. Pd.
- Sumber-sumber lainnya

Ikuti kami di
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Sumber: Tribun Medan
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved