Sirih Suguhan Tradisi Adat Karo

Daun Sirih, sudah tak asing lagi terdengar sebagian masyarakat Indonesia sebagai makanan atau suguhan tradisi.

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
coreccto.id
Foto Ibu-ibu Karo sedang memakan daun sirih yang sebagai suguhan tradisi suku Karo, Jumat 25 September 2020 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Daun Sirih, sudah tak asing lagi terdengar sebagian masyarakat Indonesia sebagai makanan atau suguhan tradisi. Biasanya makan sirih merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh berbagai suku di Indonesia.

Berdasarkan jurnal bertajuk “Pengaruh Budaya Makan Sirih Terhadap Status Kesehatan Periodontal pada Masyarakat Suku Karo di Desa Tiga Juhar Kabupaten Deliserdang” oleh Mestika Lumbantoruan, bahwa kebiasaan makan sirih ini merupakan tradisi yang di dilakukan turun menurun pada sebahagian besar penduduk pedesaan. Di mana pada mulanya berkaitan erat dengan adat kebiasaan masyarakat setempat.

Adat kebiasaan ini biasanya di lakukan pada saat acara yang sifatnya ritual. Begitu pula dengan suku Karo yang memiliki adat kebiasaan tersebut pada tradisi mereka.

Kebiasaan ini di jumpai tersebar luas di kalangan penduduk wanita suku Karo. Menurut Dentika J dalam jurnalnya, pada mulanya menyirih digunakan sebagian suguhan kehormatan untuk orang orang/tamu-tamu yang di hormati pada upacara pertemuan atau pesta perkawinan. Baik dari perkembangannya budaya menyirih menjadi kebiasaan memamah selingan di saat saat santai.

Merari Siregar

Kesulatanan Asahan

Menurut Boedihardjo dalam jurnalnya, bahwa secara umum di lihat dari tinjauan geografis, budaya, dan rumpun bangsa. Bahwa suku Karo adalah salah satu etnis suku suku bangsa Indonesia, yaitu rumpun Batak yang berdiam disebagian besar daratan tinggi Karo, serta menganut sistem kekerabatan yang di sebut dengan “Merga”.

Hal ini karena kedekatan pengaruh kekerabatan itu, rumpun etnis Batak ini ada yang memiliki kesamaan kebiasaan yang salah satunya yaitu mengunyah sirih dengan daun sirih, pinang, gambir, dan kapur sebagai bahan dasar.

Namun dari hasil penelitian Enos dalam jurnalnya, menunjukkan bahwa terdapat hubungan budaya makan sirih yang meliputi tradisi makan sirih (p=0,101), komposisi sirih (p=0,024), frekuensi makan sirih (p=0,018), lamanya makan sirih (p=0,031). Kemudian pembuktian bahwa sirih merupakan makanan tradisi suku Karo, hal ini terbukti dari data Berdasarkan hasil survey di Puskesmas Tiga Juhar 2016.

Bahwa pasien yang datang dengan keluhan gigi dan mulut ke Puskesmas Tiga juhar sebahagian adalah wanita yang sering mengkomsumsi sirih.

Keadaan ini dimaklumi karena mayoritas penduduknya adalah suku Karo (95,5%), sehingga kebiasaan makan sirih menjadi budaya secara turun menurun.

Baik itu menjadi suatu menu yang wajib dalam setiap kegiatan-kegiatan adat, atau pesta perkawinan masyarakat Karo.

Sumber: Tribun Medan
Halaman12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved