Kota Maksum

Ternyata, Kota Medan memilki kawasan, yang sangat bersejarah pada era Kesultanan Deli. Kawasan tersebut dikenal dengan nama Kota Maksum,

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Masjid Raya Al Mashun yang metupakan Ikon Kota Medan di Jl Sisingamangaraja No61, Mesjid, Kec Medan Kota, Kota Medan, Jumat (25/9/2020)

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Ternyata, Kota Medan memilki kawasan, yang sangat bersejarah pada era Kesultanan Deli. Kawasan tersebut dikenal dengan nama Kota Maksum, kawasan yang kini berstatus kelurahan di Kota Medan.

Kawasan ini dahulunya merupakan bagian  dan pusat wilayah pemerintahan kesultanan Deli, Jmuat (25/9/2020).

Berdasarkan data, kawasan kota Maksum tidak langsung menjadi pusat Kesultanan Deli sejak awal berdiri.

Kesultanan yang didirikan oleh Sri Paduka Gocah Pahlawan ini telah beberapa kali berpindah pusat pemerintahan sejak yang pertama di Deli Tua. Pada masa Tuanku Panglima Perunggit (Raja Deli II), pusat pemerintahan di pindahkan ke daerah Padang Datar.

Selanjutnya oleh anaknya, Raja Deli III yaitu Tuanku Panglima Pederap, pusat pemerintahan dipindahkan lagi ke daerah Pulau Brayan sekarang. Perpindahan ini merupakan bagian dari strategi politik untuk lebih mudah mengawasi daerah-daerah taklukan kerajaan Deli. Pindahnya pusat pemerintahan terjadi lagi pada masa Sultan Deli IV yaitu Tuanku Panglima Pasutan.

Peta Kawasan Kota Maksum Saat ini di Kota Medan, Foto diambil dari Google, Jumat (25/9/2020)
Peta Kawasan Kota Maksum Saat ini di Kota Medan, Foto diambil dari Google, Jumat (25/9/2020) (Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar)

Ia memindahkan pusat kerajaan dari Pulau Brayan ke Labuhan Deli serta memberi gelar datuk untuk memperkokoh kedudukan kepala-kepala suku (para Sibayak), yang merupakan penduduk asli kerajaan Deli. Perpindahan yang terakhir terjadi pada masa Sultan Makmun Alrasyid Perkasa Alamsyah ke kawasan Kota Medan sekarang ini.

Selain karena alasan geografi dan ekonomi, perpindahan yang terakhir juga dipengaruhi oleh alasan politik, yaitu adanya kerjasama Sultan dengan pihak Belanda.

Sejak Jacobus Nienhuys memindahkan kantor kebunnya ke Medan Putri yang sepi pada tahun 1869, Medan mulai menjadi kawasan yang ramai pendatang. Dipilihnya Medan Putri disebabkan pertimbangan letaknya yang strategis.

Yakni berada di dataran yang lebih tinggi sehingga tidak mudah kebanjiran di musim hujan dan lagi berada di tengah-tengah pusat perkebunan. Kata Medan sendiri, dalam bahasa Melayu berarti tempat berkumpul.

Sejak dahulu, Medan menjadi pelabuhan tongkang-tongkang dari laut yang membongkar muatan untuk kemudian meneruskan dengan perahu kecil ke Deli Tua dan Sungai Babura.

Tak hanya itu saja,  Medan juga menjadi tempat berdagang bagi orang-orang dari Hamparan Perak, Sukapiring, dan lain-lain. Hal ini kemudian menjadi alasan dipindahkannya ibukota Residen Sumatera Timur dan pusat pemerintahan Kesultanan Deli ke Medan.

Sirih Suguhan Tradisi Adat Karo

Teater Garis Lurus Langkat Melestarikan Budaya Melalui Pembuatan Video Tari Melayu

Pemerintahan kesultanan Deli saat itu dipegang oleh Sultan Makmun Alrasyid Perkasa Alamsyah, karena itulah ia sering dijuluki sebagai tokoh pembangun kota Medan.

Sebelum Kota Maksum menjadi daerah pemukiman raja beserta kerabat dan rakyatnya, lebih dulu dibangunlah istana Maimoon dengan peletakan batu pertama pada tahun 1888. Keluarga kerajaan pindah ke Medan dari istana Labuhan pada tahun 1891 sebelum akhirnya mendiami istana Puri yang mulai dibangun pada 1905.

Dilihat dari aktivitas masyarakat, Kota Maksum dihuni oleh masyarakat pribumi dari suku Melayu, Jawa, Mandailing dan Minangkabau. Masyarakat dari suku Melayu yang tinggal di sana sebagian besar merupakan golongan Bangsawan Deli, meski ada pula yang merupakan rakyat jelata yang bukan dari turunan Bangsawan.

Sementara itu, masyarakat dari suku Minangkabau memilih Kota Maksum sebagai tujuan perantauan. Hal ini karena posisinya yang dekat dengan pusat pasar, yaitu pasar central. Selain itu di masa lalu kawasan tersebut merupakan pasar besar yang mewadahi aktivitas perdagangan di Kota Medan.

Akibat dari pencampuran tersebut, masyarakat Minangkabau yang tinggal di Kota Maksum menjadi lancar berbahasa Melayu Indonesia. Meskipun dengan logat yang masih kental, dengan bahasa Ibunya.  Sebagai daerah yang dihuni oleh kalangan Bangsawan Melayu, maka bangunan yang ada di Kota Maksum sebagian besar merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu.

Kesulatanan Asahan

Kawasan ini banyak dihuni oleh pejabat kerajaan yang turut berkontribusi dalam kehidupan politik kesultanan Deli. Hukum Sultan merupakan hukum yang berlandaskan pada agama Islam. Maka dalam kebijakan, keputusan maupun penegakan hukumnya, kesultanan Deli dibantu oleh penasehat dalam bagian hukum-hukum Islam.

Pembangunan kota Medan tidak terlepas dari pengaruh kolonial Belanda. Begitu juga Kota Maksum menjadi pusat pemeritahan Kesultanan Deli juga tidak dapat terlepas dari pengaruh Kolonial Belanda. Hal ini dikarenakan, terbentuknya hubungan sultan dan pemerintah Kolonial melahirkan sebuah kesepakatan yang diatur dalam politik kontrak sehingga tampaklah adanya campur tangan Belanda dalam kebijakan sultan.

Periode Kota Maksum sebagai ibukota Kesultanan Deli merupakan periode masa Belanda membentuk Kotaprajanya di Medan. Sehingga keberadaan Kota Maksum menghadirkan identitas tersendiri di tengah-tengah kemajuan masyarakat modern yang diprakarsai pemerintah Hindia Belanda.  

Sumber:

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
121 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved