Merari Siregar

Merari Siregar, kelahiran Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumut, 13 Juli 1986, Selasa (22/9/2020).Karya sastranya yang sangat membekas di kalangan pecinta

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Balai Bahasa Sumatra
Merari Siregar adalah merupakan Sastrawan Asal Tapsel, Selasa 22 September 2020 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Tak hanya pulau Jawa saja yang memiliki tokoh sastrawan. Pulau Sumatra juga memiliki tokoh sastrawan yang populer di masanya. Satu di antaranya Merari Siregar, kelahiran Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumut, 13 Juli 1986, Selasa (22/9/2020).

Karya sastranya yang sangat membekas di kalangan pecinta karya sastra yaitu novelnya, bertajuk Azab dan Sengsara. Dalam makalah bertajuk Tokoh Sastra Indonesia Asal Sumatera Utara Menuju Pahlawan Nasional, Antilan Purba, menjelaskan Merari Siregar bersekolah di Kweek-School sekolah guru. Beliau juga bersekolah di sekolah Gunung Sahari, Jakarta.

Antilan Purba juga menceritakan dalam makalahnya tahun 1923 dia mendapat ijazah dari Handelscorrespondent Bond A di Jakarta. Lalu, Ia bekerja sebagai guru bantu di Medan. Setelah itu, Ia bekerja di Rumah Sakit CBZ ( Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), Jakarta. Kemudian, Ia pindah ke Kalianget, Madura dan bekerja di Kantor Opium end Zouregie, sampai meninggal dunia.

Data bersumber dari Badan Pengembangan dan Pembinanan Bahasa, Merari Siregar merupakan seorang sastrawan. Karya tulis sasatranya bercorak baru untuk ukuran zamannya, ketika hikayat masih dominan. Selain seorang sasatrawan Ia juga seorang ayah dari tiga orang anak, yaitu Florentinus Hasajangu, Suzanna Tiurna Siregar, dan Theodorus Mulia Siregar.

Seorang Merari Siregar sejak kecil berada dalam dunia keketatan adat dan kawin paksa. Setelah dewasa, Ia melihat bahwa pola hidup masyarakat di Sipirok tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Oleh karena itu, hati kecilnya ingin mengubah sikap dan pandangan yang kurang baik itu. Novel yang bertajuk Azab dan Sengsara berbicara tentang kesengsaraan seorang gadis akibat kawin paksa.

Kesulatanan Asahan

Ia sendiri menyatakan bahwa ia mengarang cerita ini bermaksud menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik dan kurang sempurna di tengah-tengah bangsanya. Selanjutnya, Merari Siregar juga seorang penyadur yang baik. Cerita saudaranya sangat hidup sehingga pembaca tidak merasakan cerita itu sebagai saduran dari luar negeri. Pembaca seolah-olah membaca cerita Indonesia asli, seperti dalam cerita si Jamin dan Si Johan.

Kemudian, Antilan Purba dalam makalahnya mengatakan, karya Merari Siregar hanya berbentuk novel baik karya asli maupun saduran, sebagaimana tercatat berikut ini.

Orangutan Sumatera

1. Si Jamin dan Si Johan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1918, saduran dari Jan Smess karya Justus van Maurik (Merari Siregar pernah mendapatkan hadiah dalam sayembara mengarang atas cerita Si Jamin dan Si Johan).

2. Azab dan Sengsara diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1920 di Jakarta.

3. Tjerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1924.

4. Binasa karena Gadis Priangan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1931.

5. Tjinta dan Hawa Nafsu diterbitkan oleh Balai Pustaka (tanpa tahun).

Sumber:

- Badan Pengembangan dan Pembinanan Bahasa, Balai Bahasa Sumatra Utara

- Makalah bertajuk Tokoh Sastra Indonesia Asal Sumatera Utara Menuju Pahlawan Nasional, Karya Drs. Antilan Purba, M.Pd.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved