Kesulatanan Asahan

Kesultanan Asahan, yang saat ini menjadi kawasan Kabupaten Asahan. Kesultanan Asahan merupakan salah satu Kesultanan Melayu, yang struktur kerajaannya

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
@Bobo-Gird.ID
foto bekas Isntana Kesultanan Asahan, di Kabupaten Asahan, Selasa, 22 September 2020 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Barangkali sebagian masyarkat Indonesia, mengenal Kesultanan di Provinsi Sumut. Hanya sebatas Kesultanan Deli saja, yang dikenal dengan ikonnya yaitu Istanan Maimun.

Namun, ternyata di Sumut tak hanya ada satu kesultanan saja. Melainkan, ada beberapa kesultanan yang berjaya pada masanya.

Satu di antaranya yaitu Kesultanan Asahan, yang saat ini menjadi kawasan Kabupaten Asahan. Kesultanan Asahan merupakan salah satu Kesultanan Melayu, yang struktur kerajaannya tidak jauh berbeda dari struktur kerajaan negeri-negeri Melayu di Semenanjung Malaka. Kesultanan Asahan berdiri pada tahun 1630 di wilayah yang saat ini menjadi Kabupaten Asahan.

Dalam hal ini, Sejarawan Kota Medan, M Aziz Rizky, menceritakan Kesultanan Asahan merupakan salah satu kesultanan yang berada di wilayah Sumatera Timur. Pada saat ekspansi Belanda ke wilayah tersebut, dimulai lah Elia Netscher yang bertindak sebagai pimpinan rombongan. Dalam hal ini tercatat mengunjungi Asahan sebanyak 2 kali. Ekspedisi pertama ditahun 1862 dan ekspedisi ke dua di tahun 1865.

Ekspansi pertama ini bertujuan untuk menundukkan wilayah-wilayah kerajaan yang ada di Sumatera Timur. Sedangkan ekspansi kedua dilakukan untuk operasi militer, menyerang kerajaan-kerajaan yang tidak mau tunduk pada Belanda.

Replika Istana Sultan Asahan di Kabupaten Asahan, Selasa 22 Sepetember 2020
Replika Istana Sultan Asahan di Kabupaten Asahan, Selasa 22 Sepetember 2020 (Wikipedia)

Keberangkatan Netscher didampingi oleh Petinggi Kesultanan Siak, selaku kesultanan yang dianggap Belanda menguasai hampir keseluruhan Wilayah Sumatera Timur.

Kesultanan Asahan yang tunduk pada kerajaan Aceh, membuat keinginan Netscher untuk menundukkan Asahan tidak berjalan mulus.

Hal ini memang Kesultanan Asahan merupakan keturunan dari Sultan Iskandar muda yang sangat tersohor itu. Kesultanan Asahan Pernah mengibarkan bendera Kerajaan Inggris di dermaga wilayah kesultanan untuk mengelabui Belanda. Hal ini dilakukan agar tidak masuk ke wilayah Kesultanan.

M Aziz Rizky juga menjelaskan, Sultan Ahmadsyah yang ketika itu sedang bertahta juga pernah menolak mentah-mentah undangan Netscher untuk berunding diatas kapalnya. Penolakan inilah yang membuat Netscher geram, sehingga memberikan ultimatum kepada Sultan Ahmadsyah bahwa Belanda Akan menyerang.

Ultimatum ini kemudian dilakukan ditahun 1865 tersebut. Karena kalah dalam persenjataan, akhirnya Kesultanan Asahan tunduk pada Belanda. Sikap yang ditunjukkan oleh Sultan Ahmadsyah patut kita tiru. Sultan telah menunjukkan bahwa kesultanan dapat berdiri sendiri, dan sejajar dengan kesultanan lain.

Namun, dalam buku Babon Kerajaan-Kerajaan di Nusantara, Faisal Ardi Gustama, menceritakan Kesultanan Asahan berdiri sejak abad ke-17 M, dan telah memeluk Islam sejak awal didirikan. Hal itu dikarenakan pemimpin pertama kerajaan ini adalah putra Sultan Iskandar Muda, bernama Abdul Jalil. Wilayah yang menjadi daerah pemerintahan Kesultanan Asahan awalnya adalah daerah taklukan Kesultanan Aceh Darussalam.

Air Terjun Erfrata Kepingan Surga Indonesia

Trites

Wilayah Kesultanan Asahan itu ditaklukan oleh Aceh Darussalam ketika Sultan Iskandar Muda melakukan penyerbuan ke Kerajaan Aru, yang berpusat di daerah Deli pada 1612. Saat itu, pasukan Aceh Darussalam sedang mengejar Sultan Johor yang diketahui menjadi kerja sama dengan Portugis. Dalam pengejaran itu, Sultan Iskandar Muda dan pasukannya berhenti di sebuah sungai.

Ketika sedang beristirahat itu, Sultan Iskandar Muda menyusuri sungai itu, hingga ia tiba di suatu tanjung yang sangat indah. Tanjung tersebut merupakan pertemuan antara dua sungai, yakni Sungai Asahan dan Sungai Silau. Sultan Iskandar Muda yang terpesona dengan pemandangan di sekitar tanjung, memerintahkan kepada para pengawalnya untuk membangun tempat peristirahatan berupa balai.

Daerah tersebut kemudian dikenal dengan nama Tanjung Balai, yang nantinya akan menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Asahan. Ketika sedang proses pembangunan balai itu, datang seorang dukun yang berasal dari Suku Karo bernama Bayak Lingga. Salah seorang pengawal Sultan Iskandar Muda bertanya kepada dukun itu mengenai penguasa tempat yang sedang mereka bangun.

Bayak Lingga mengatakan bahwa penguasa tempat itu adalah Raja Margolang, seorang penguasa lokal di sana. Sultan Iskandar Muda kemudian mengutus salah seorang pengawalnya untuk menemui Raja Margolang dengan maksud meminta daerah Tanjung Balai tersebut. Utusan Sultan Iskandar Muda itu datang dengan membawa banyak pasukan bersenjata lengkap.

Raja Margolang yang terkejut dengan kedatangan utusan itu, segera mengizinkan Sultan Iskandar Muda menguasai Tanjung Balai demi menghindari sesuatu yang tidak ia inginkan. Sejak saat itulah daerah Asahan menjadi milik Kesultanan Aceh Darussalam. Ketika kekuasaan Aceh Darussalam mulai meredup, Kesultanan Asahan melepaskan diri dan menjadi kerajaan sendiri pada abad ke-19.

Sumber:

- Buku Babon Kerajaan-Kerajaan di Nusantara, oleh Faisal Ardi Gustama, yang diterbiukan oleh Brilliant Book, Yogyakarta, 2017.

- Sejarawan Kota Medan, M Aziz Rizky,

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
116 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved