Orangutan Sumatera

Orangutan Sumatera hanya bisa dijumpai di pulau Sumatera. Spesies orangutan di Sumatera tidak hanya satu, akhir tahun 2017 Kementerian Lingkungan

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Tribun-medan/HO Rio Ardi
Orangutan Sumatera yang sedang menggantung di pepohonan kawasan TNGL, Sumatera Utara, Selasa September 2020 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Tak hanya kuliner dan destinasi wisata saja yang menjadi ikon yang mewakili Pulau Sumatera dan Provinsi Sumut. Flaura dan Fauna juga mewakili ikon Provinsi Sumatera Utara.

Satu di antaranya fauna (hewan) Orangutan Sumatera, yang merupakan hewan endemik Pulau Sumatera.

Hewan spesies kera besar seperti halnya gorila dan simpanse ini hanya bisa ditemukan di hutan Sumatera saja, dan merupakan spesies primata besar paling langka di dunia, Selasa (7/9/2020).

Orangutan Sumatera hanya bisa dijumpai di pulau Sumatera. Spesies orangutan di Sumatera tidak hanya satu, akhir tahun 2017 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan Orangutan Tapanuli atau Pongo Tapanuliensis sebagai spesies baru, jadi saat ini di Pulau Suamtera ada dua spesies orangutan. Yakni, Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Beberapa kawasan yang menjadi habitat Orangutan Sumatera antara lain di Taman Nasional Gunung Leuser yang terletak di Provinsi Sumatera Utara dan Aceh dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Provinsi Aceh. Sedangkan, habitat orangutan tapanuli berada di Kawasan Ekosistem Batang Toru.

Orangutan Sumatera atau Pongo abelii merupakan satu diantara 11 hewan mamalia paling langka di Indonesia.

Populasi orangutan sumatera diperkirakan hanya sekitar 14.470 individu (Population and  Habitat Viability Analysis/PHVA Tahun 2016) Populasinya ini jauh lebih sedikit dibanding saudaranya, orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang berjumlah 57.350 individu (Population and  Habitat Viability Analysis/PHVA Tahun 2016).

Berkurangnya populasi Orangutan Sumatera diakibatkan oleh kerusakan hutan sebagai habitat Orangutan Sumatera.

Hutan tropis sumatera yang ditetapkan UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia mengalami degradasi akibat konversi perkebunan sawit, pertambangan, pembukaan jalan, legal maupun ilegal loging, pemukiman dan kebakaran hutan. Ancaman juga terjadi akibat perburuan liar dan perdagangan bebas.

Menurut WWF, pada tahun 1985-1990 saja sekitar 1000-an lebih orangutan sumatera telah dijual ke Taiwan.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved