Pao An Tui

Pao An Tui, nama yang tak asing lagi di sebagian kalangan sejarawan dan akedemisi maupun masyarkat Medan. Pao An Tui merupakan sebuah pasukan pertahan

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Wikipedia
Foto Bandoeng Rekruten van Pao An Tui yang merupakan Barisan Keamanan Tionghoa, Senin 24 Agustus 2020. foto bersumber wikipedia. 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.comPao An Tui, nama yang tak asing lagi di sebagian kalangan sejarawan dan akedemisi maupun masyarkat Medan. Pao An Tui merupakan sebuah pasukan pertahanan diri komunitas Tionghoa Indonesia saat Revolusi Indonesia.

Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh, Penulis buku Komunitas Cina Medan dalam Lintasan Tiga Kekuasaan, Nasrul Hamdani, mengatakan Pao An Tui artinya barisan keamanan, Senin, (24/8/2020).

Sambungnya, pada tahun 1948 akhir Pao An Tui dibubarkan, setelah program Hatta yaitu Re-Ra (Rekrontruksi dan Rasionalisasi). Lanjutnya, latar berdirinya Poa An Tui karena adanya suatu gejolak setelah Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di masa itu tingginya tingkat kriminalitas, seperti perampokkan dan pengedoran. Jadi, satu di antara korbannya ialah warga Tionghoa di Medan.

Delipark Mall Medan

Maka, dari peristiwa itu adanya inisiatif dari organisasi-organisasi China Daratan atau China Taiwan membentuk badan keamanan seperti hansip.

Pada tahun 1947 setelah Medan direbut oleh NICA, Hansip bentukkan organisasi China tersebut meminta bantuan logistik dengan NICA. Seperti bantuan persenjataan-persenjataan dan ini memang sejalan dengan keputusan kongres sidang Hua Ch'iao Chung Hui (HCCH, Organisasi Cina Rantau di Indonesia).

Keputusan organisasi itu meminta kepada penguasa peran Hindia Belanda untuk mendukung pembentukan Badan Keamanan Tionghoa yang namanya Poa An Tui. Sambungnya, peninggalan Poa An Tui di Medan yaitu Hotel Wai Yat yang terletak di sekitar Jalan Bogor dan Surabaya. Hotel tersebut tempat perwira-perwira Poa An Tui menginap, dan markas besarnya di Jakarta sekitar kawasan Gelodok (bekas markas HCCH).

Berdasarkan buku Republik Indonesia Propinsi Sumatra Utara, menyatakan Pemerintah Republik Indonesia menganggap penduduk Tionghoa sebagai tamu dan warga negara yang hidup disini telah berabad-abad mencari nafkah dengan aman, tenteram, rajin dan bersedia patuh pada Undang-Undang Negara. Pemerintah harap supaya mereka meneruskan sikap yang baik ini dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan dan mengganggu kedudukan dan kedaulatan Republik.

Penduduk Tionghoa mesti insyaf, bahwa bangsa Indonesia sedang memperjuangkan mati-matian kemerdekaannya dalam satu revolusi nasional yang mereka telah juga alami ditahun 1911 waktu menegakkan Republik Tiongkok yang besar itu.

“Pemerintah menghargakan tinggi simpati yang ditunjukkan oleh sahabat-sahabat kita Tionghoa terhadap Republik. Marilah kita bekerja bersama dan bantulah Pemerintah lebih kuat agar tenaganya menjamin jiwa dan harta penduduk Tionghoa, serta jauhkanlah pekerjaan membantu musuh-musuh Republik kami”.

Moco Garace

Ancol Arung Jeram

Sumber: Tribun Medan
Halaman12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved