Pangkalan Brandan Kabupaten Langkat

Jadi, wajar saja banyak ditemui tambang emas, batu bara, dan minyak bumi serta kekayaan alam lainnya di Indenesia. Satu di antaranya tambang minyak di

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Kompas Markus Duan Allo
Puing-puing kilang pertamina yang kini dijadikan monumen di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, Senin 24 Agustus 2020. Foto Bersumber Kompas Markus Duan Allo. 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Seperti dikatakan Band Legend Indonesia, Koes Plus, pada syair lagunya yang bertajuk Kolam Susu. Yakni, Bukan lautan hanya kolam susu, Kail dan jalan cukup menghidupimu,

Tiada badai tiada topan kau temui, Ikan dan udang menghampiri dirimu. Apabila dikaji berdasarkan pendekatan Hermenuetika, lirik lagu tersebut merupakan representasi tentang kayanya Indonesia dari hasil alam rayanya, Senin (24/8/2020).

Jadi, wajar saja banyak ditemui tambang emas, batu bara, dan minyak bumi serta kekayaan alam lainnya di Indenesia. Satu di antaranya tambang minyak di Pangkalan Brandan, yang merupakan tambang minyak pertama di Indonesia. Bahkan, merupakan tambang minyak kedua di dunia pada saat masa penjajahan kolonialisme.

Hal ini terbukti dalam catatan sejarah, dengan adanya sebuah peristiwa Brandan Bumi Hangus, pada 13 Agustus 1947. Pangkalan minyak di Brandan ingin direbut oleh Belanda pada masa Agresi Belanda I.

Hal itu tentunya, agar Belanda mendapatkan suatu logistik perang di Indonesia dan ingin menguasi tambang minyak tersebut.

Akan tetapi, pada masa itu pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia membumi hanguskan Pangkalan Minyak  Brandan.

Pao An Tui

Delipark Mall Medan

Hingga Belanda tidak mendapatkan pangkalan minyak bumi tersebut. Dalam catatan sejarah, adanya potensi minyak bumi di Pangkalan Brandan diketehui pada tahun 1860.

Lalu, pihak kesultanan Langkat memintak pihak Belanda untuk membantu menemukan potensi tersebut.

Saat masa kepemimpinan Sultan Musa pada Kerajaan Kesultanan Langkat, di tahun 1883 ditemukan lah potensi minyak bumi. Tempat tersebut merupakan sumur minyak Talaga Said dan sumur minyak Lubuk Kertang. Lalu, pada tahun 1882 mulai lah diproduksi minyak pertama dan dipasarkan pada dunia.

Pada masa itu kemudian dibangunlah pelabuhan Pangkalan Susu, karena minyak ini sioper ke Pangkalan Susu lalu naik kapal kemudian dijual ke pasar dunia. Pertama kali yang mengelolah adalah perusahaan Belanda yaitu Batavia Petroleum Maatschappij (BPM) dan kerja sama dengan Kesultanan Langkat.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved