Seripaduka Baginda Tuanku Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah

Seripaduka Baginda Tuanku Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah. Biasanya keluarga memanggilnya Tuanku Aji, Ia lahir di Makassar, Sulawesi

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Preiden Republik Indonesia, Jokowidodo berjabat tangan Sultan Deli XIV, Tengku Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, saat berkunjung ke Istana Maimun, Jalan Brigjen Katamso, Kota Medan, Kamis (18 Juni 2020)
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Preiden Republik Indonesia, Jokowidodo Berswafoto dengan Sultan Deli XIV, Tengku Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, saat berkunjung ke Istana Maimun, Jalan Brigjen Katamso, Kota Medan, Kamis (18 Juni 2020)
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Preiden Republik Indonesia, Jokowidodo merangkul tangan Sultan Deli XIV, Tengku Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, saat berkunjung ke Istana Maimun, Jalan Brigjen Katamso, Kota Medan, Sabtu (18 Juni 2020)
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Sultan Deli XIV, Tengku Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, saat kecil di Istana Maimun, Jalan Brigjen Katamso, Kota Medan, Sabtu (18 Juni 2020)
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Sultan Deli XIV, Tengku Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, saat kecil di Istana Maimun, Jalan Brigjen Katamso, Kota Medan, Sabtu (18 Juni 2020)

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Menelusuri sejarah Kota Medan, maka tak terlepas dengan Kesultanan Deli. Hal ini tentunya Kesultanan Deli mememiki hubungan erat dengan peradaban Kota Medan. Baik dari sektor ekonomi, konsep bangunan dan kebudayaan serta lainnya.

Namun, sebelum jauh menyelami sejarah peradaban Kota Medan. alangkah baiknya, para pembaca www.Tribun-medan.com diajak untuk mengenal lebih dekat Sultan Deli ke-14, Seripaduka Baginda Tuanku Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah. Biasanya keluarga memanggilnya Tuanku Aji, Ia lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 29 Agustus 1998.

Menurut Tuanku Aji, terlahir menjadi seorang raja, dan dibesarkan di lingkungan kerjaan Kesultanan Deli merupakan suatau anugrah dan rezki baginya. Tak hanya itu saja, Ia juga beryukur lahir dari seorang Ibu, yang merupakan berdarah Banjar dan Sulawesi Selatan. Dalam hal ini juga, Ia menggap ini bukan suatu kebanggaan yang harus dibanggakan sepnuhnya. Karena, Ia berpikir bahwa hidup ini semuanya hanya kembali kepada Allah SWT.

Ia juga menceritakan masa kecilnya yang tak lain dari anak-anak seperti di luar istana atau lingkungan kerajaan. Sebab, keluarganya membebaskan kepada siapa untuk berteman dan bersilatuhrami. Tidak ada batasan sosial dalam beretaman, yang diajarkan oleh kedua orangtuanya. Asalkan, masih tetap dalam koridor yang sesuai norma-norma agama.

Hal ini tentunya karena keluarganya mendidik Ia dari kecil selalu ditanamkan adab-adab budi yang luhur. Ia juga menceritakan, sejak kecil tak hanya mendapatka didikan dari keluarga Kesultanan Deli saja. Melainkan, dapat didikan dari keluarganya dari Banjar, dan Makassar (Bugis). Dimana perpaduan adab budaya dan agama, dimasukkan ke dalam kaderisasinya pada saat kecil.

Ada hal yang tak bisa dilupakan oleh seorang Tuanku Aji, yaitu di saat dirinnya dilantik menjadi seroang Raja Kesultanan Deli pada tahun 2005. Selain itu, hal yang paling indah ialah momen-momen saat dengan teman-teman dekatnya. Baik itu di masa kecil, maupun saat di masa kuliah sekarang ini.

Sahan

Lalu, teman-teman yang baru mengetahui dan temean yang sudah lama mengetahui terkait tentangnya bahwasanya seorang Sultan Deli. Hal tersebut dijadikan suatu becandaan, terhadap teman yang sudah seperti saudara atau akrab. Akan tetapi, bahan bercandaan dalam konteks, becandaan yang tak serius melainkan seperti becandaan keakraban. Lalu, teman-temanya juga tak memperlakukannya seperti hal yang sangat patut disegani, melainkan seperti biasanya, selayaknya pertemanan.

Selanjunya, ternyata di masa kecil Tuanku Aji memliki sebuah cita-cita yang selalu berubah-ubah. Dari ingin menjadi seorang tentara, tetapi, menjadi seorang tentara baginya saat ini, bukanlah merupakan jawaban baginya untuk kedepannya. Lalu, saat ini Ia memiliki cita-cita dan bertekad untuk mewujudkan cita-citanya, sebagai seorang dosen atau akedemisi.

Selain menjadi akedemisi, Tuanku Aji juga memliki sebuah harapan kepada masyarakat Deli dan Kesultanan Deli. Ia berharap, agar Kesultanan Deli tetap ada marwahnya, marwahnya tetap terjaga, tidak luntur, meskipun, zaman berubah. Kemudian, Ia juga berharap untuk masyrakat Deli, selalu hidup dalan Kebinekaan Tunggal Ika, sesuai apa yang terkandung dengan pancasila. Sehingga, tidak merusak tatanan negara kesatuan Republik Indonesia.

Profil Singkat Sultan Deli ke-14

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved