Sahan

Menurut Budayawan Batak Toba, Oppung Monang Naipospos, menagatakan Sahan merupakan tempat atau wadah obat tabib di masyrakat Toba, Rabu (17/6/2020)

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Gambar Sahan yang merupakan wadah ramuan obat oleh tabib di masyrakat Toba, di Museum Negeri Sumatra Utara, Jalan HM Joni, Kota Medan, Rabu (17/6/2020). 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Wadah atau tempat penyimpanan makanan, pupuk dan obat-obatan, pada masa masa kerajaan di Indonesia sangat beragam bentuknya.

Satu di antaranya Sahan, alat tradisional masyarakat Toba. Menurut Budayawan Batak Toba, Oppung Monang Naipospos, menagatakan Sahan merupakan tempat atau wadah obat tabib di masyrakat Toba.

Jadi, pada aman dahulu para tabib, menggunakan Sahan untuk tempat obat atau ramuan-ramuan obat alami. Karena, obat tersebut suka dibawa ke mana-mana. Jika, ramuan obat itu dibawa dengan menggunakan daun pisang dan bambu tidak kelihatan bagus.

Jadi, para tabib dahulu membuat sesuatu tempat obat yang kelihatannya menarik perhatian dan bagus atau kehilatan gagah. Sebab, Sahan ini kelihatan dari kasat mata seperti perhiasan dan antik. Hal ini juga, karena pembuatan Sahan selalu diukir indah, dihias, dimotif, serta dibentuk ukir-ukiran seperti naga atau lainnya.

Terkadang juga Sahan ini dibuat dengan lilitan perak dan emas serta tembaga. Hal ini tentunya di zaman dahulu, pembuatan Sahan sesuai kemampuan tabibnya. Sahan ini dibuat dari bahan dasar tanduk kerbau.

Moco Garace

Gambar Sahan dari samping, yang merupakan wadah ramuan obat oleh tabib di masyrakat Toba, di Museum Negeri Sumatra Utara, Jalan HM Joni, Kota Medan, Rabu (17/6/2020).
Gambar Sahan dari samping, yang merupakan wadah ramuan obat oleh tabib di masyrakat Toba, di Museum Negeri Sumatra Utara, Jalan HM Joni, Kota Medan, Rabu (17/6/2020). (Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar)

Karena, para tabib di zaman dahulu berpikir dan percaya meletakan obat atau ramuan obat di tanduk kerbau, tingkat basinya cukup lama. Sehingga, obat atau ramuan yang disimpan bisa bertahan lama. Bukan, mengandung mistis atau keberhalaan.

Sampai saat ini orang-orang berpikir bahwa Sahan adalah tempat obat yang berbau mistis atau alat tradisional yang berbau mistis. Namun, itu pun terpulang kepad persefsi masing-masing orang yang menanggapinya bagaimana. Lalu, pada saat zaman sekarang Sahan ini sudah tak dipakai lagi menjadi tempat obat atau lainnya. Melainkan, menjadi hiasan di rumah.

Hal ini tentunya juga karena adanya sebuah pergeseran zaman dan perkembangan zaman. Maka, Sahan jarang digunakan pada saat ini. Jadi, Sahan ini sebagai tempat ramuan obat yang disandang bila seorang tabib pergi mengobati pasiennya. Lalu, ukuran Sahan tergantung oleh keperluan dan kebutuhan tabibnya. Biasnya ada ukuran yang kecil untuk mengobati dengan jarak dekat dan ukuran besar biasanya untuk mengotabi dengan jaran yang jauh.

Selanjutnya, berdasarkan data dari Museum Negeri Sumatra Utara, bahwa Sahan dipercayai masyrakata Toba di masa lalu, menganggap Sahan memiliki kekuatan gaib. Benda ini biasanya dipergunakan sebagi tempat menyimpan pupuk (yang berasal dari abu jenazah manusia yang dibakar atau digonseng).

Fungsi Sahan ini sebagai pagar atau pelindung kampung dari kekuatan jahat dan mencegah terjadinya penyakit menular. Sahan ini terbuta dari gading dan terdiri dari dua bagian, yaitu sebagai wadah dan tutup. Bagian wadah dihiasi berbagai ornamen tradisional. Di ujungnya terukir pahatan dua manusia bertindih. Bagian tutup dihiasi ornamen kepal kuda dan manusia.

Sumber:

- Museum Negeri Sumatra Utara

- Budayawan Batak Toba, Oppung Monang Naipospos

 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved