Jongkong, Penganan Khas Melayu saat Ramadan

yaitu Jongkong. Pedagang kaki lima penganan menu berbuka puasa, Adi, mengatakan Jongkong merupakan penganan khas Melayu saat bulan suci Ramadan, Rabu

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Pak Adi menggunakan baju kemeja kotak kotak, yang merupakan pedagang Jongkong, penganan khas Mealayu bulan Ramadan, di Jalan H Moh Yamin Medan, simpang Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Medan, Rabu (17/6/2020) 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Hal yang sangat lumrah diketahui, bahwa setiap daerah di Indonesia memilki penganan-penganan khas daerahnya masing-masing, yang menjadi menu berbuka puasa. Satu di antara menu tersebut, yaitu Jongkong.

Pedagang kaki lima penganan menu berbuka puasa, Adi, mengatakan Jongkong merupakan penganan khas Melayu saat bulan suci Ramadan.

Bahkan, Jongkong juga menjadi menu favorit untuk berbuka puasa di Kota Medan. Selain itu, Jongkong ini sudah populer saat zaman kerajaan Melayu di Kota Medan. lalu, Adi menjelaskan Ia menjual penganan Jongkong saat musim Ramadan tiba saja.

“Jongkong ini merupakan penganan khas Melayu, memang saat musim Ramadan baru ada pedagang yang menjual penganan Jongkong. Selain enak dimakan juga dingin diperut,” tuturnya

Adi yang berusia 42 tahun dan merupakan warga Medan, mengatakan pedagang penganan Jongkong di Medan, hanya ada di Jalan H Moh Yamin Medan, simpang Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Medan. Ia mengaku setiap bulan suci Ramadan pinggiran trotoar sepanjang jalan tersebut ramai dengan pedagang penganan Jongkong.

Berjejer Jongkong yang dibungkus dengan daun pisang merupakan penganan khas Mealayu, di Jalan H Moh Yamin Medan, simpang Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Medan, Rabu (17/6/2020)
Berjejer Jongkong yang dibungkus dengan daun pisang merupakan penganan khas Mealayu, di Jalan H Moh Yamin Medan, simpang Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Medan, Rabu (17/6/2020) (Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar)

Sahan

“Kalau setiap Ramadan di jalan ini, ramai pedagang Jongkong, dan di Medan hanya di sini yang menjual penganan ini. Kalau pedagang Jongkong saat Ramadan itu ada sekitar sepuluh la. Tapi kalau pedagang menu berbuka, jika tak ada covid-19 bisa sampai kurang lebih lima puluh pedangan,” ucapnya.

Lanjutnya, para pedangan Jongkong di Kota Medan ini, merupakan pedagang dari turun menurun. Ia juga mengaku kebanyakan pedagang penganan Jongkong di Medan merupakan generasi ketiga. Hal ini dikarenakan yang mengetahui cara membuat dan mengolah penganan Jongkong hanya orang melayu.

“Ya karena Jongkong ini kan penganan dari turun menurun orang Melayu, jadi hanya orang Melayu yang pandai meracik Jongkong ini. Kalau orang suku lain pasti beda rasanya, walaupun bahannya tetap sama,” tuturnya.

Biasanya Jongkong dijual oleh para pedangan menu berbuka puasa itu, satu bungkusnya sekitar Rp 600 perbungkus. Kalau, unutk bahan dan komposisinya, penganan Jongkong ini terdiri dari tepung beras yang dicampur dengan santan kelapa, dan gula merah. Lalu, adonan tersebut dibungkus dengan menggunakan daun pisang, agar membuat rasanya manis lemak dan lembut serta wangi.

Ancol Arung Jeram

“Nah cara masaknya ini dikukus dia, adonan yang dibungkus dengan daun pisang langsung dikukus. Jadi, kalau baru masak wangi kali. Jongkong ini enak dimakan hangat-hangat, ya dingin bisa la, tapi lebih enak hangat-hangat dia. Masih berasa wangi daun itu dan lebih terasa kelezatannya,” pungkasnya.

Dalam hal ini, Adi juga menuturnkan pedagang menu buka puasa yang ada di jalan tersebut, taka hanya menjual Jongkong saja. Melainkan, penganan tradisional lainnya seperti Tauge Penyabungan khas Tapsel dan lain-lainya. Untuk waktu operasional para pedagang, biasanya berjualan dari sekitar pukul 15.00 WIB sampai pukul 19.00 WIB setiap Ramadan tiba.

Isi dalam Jongkong penganan khas Mealayu ketika dibuka oleh pedagang Jongkong di Jalan H Moh Yamin Medan, simpang Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Medan,
Isi dalam Jongkong penganan khas Mealayu ketika dibuka oleh pedagang Jongkong di Jalan H Moh Yamin Medan, simpang Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Medan, (Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar)

Salah satu pembeli yang merupakan warga Gurila Medan, berusia 55 tahun, Chairuddin mengatakan setiap Ramadan ia selalu membeli penganan Jongkong. Hal ini karena Ia merupakan orang Melayu yang suka dengan Jongkong. Ia juga menuturkan bila berbuka puasa tak makan Jongkong kurang abdol rasanya.

“Kalau beli sering la pada bulan Ramadan untuk menu berbuka puasa sama istri. Karena saya orang Melayu makanya saya suka Kue Jongkong, dan ini makanan ciri khas Melayu.” Ucapnya.

Chairuddin juga mengatkan penganan Jongkong ini selalu dinanti. Karena, panganan ini hanya ada dijual saat Ramadan tiba. Oleh karena itu, untuk mencari makanan jongkong ini diluar bulan puasa sangatlah sulit. Tidak dapat ditemui dipasar, maupun di warung warung kopi dan ditempat jajanan makanan sekalipun.

“Makanya sangat wajarkan, saat bulan Ramadan tiba Jongkong ini menjadi primadona untuk menu berbuka puasa. Jadi, kami orang Melayu membeli Jongkong ini juga untuk menularkan dan mengenalkan sama anak dan cucu, bahwa Jongkong ini merupakan makanan tradisi Mealayu,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved