Mengenal Peti Mati Nias Selatan yang Dihiasi Kepala Laras

Berdasarkan data yang diperoleh dari Museum Nergeri Sumatra Utara, Peti Mati Nias Selatan, merupakan peti mati yang dihiasi kepala Laras, yaitu hewan

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Peti Mati Nias Selatan, merupakan peti mati yang dihiasi kepala Laras dan di atas peti terlihat pahatan kayu berbentuk figur laki-laki dalam posisi berbaring, yang ada di Museum Negeri Sumut, Jalan HM Joni Nomor, 5 Kota Medan, Senin (15/6/202) 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Berdasarkan data yang diperoleh dari Museum Nergeri Sumatra Utara, Peti Mati Nias Selatan, merupakan peti mati yang dihiasi kepala Laras, yaitu hewan mitos dalam religi Nias Kuno.

Pada bagian atas tutup peti terdapat figur laki-laki dalam posisi berbaring. Peti mati seperti ini dibuat untuk bangsawan yang dianggap berjasa bagi kampung dan diletakkan di bagian depan kampung, Senin, (15/6/2020).

Selain peti mati tanpa mayat yang tidak dikubur, terdapat pula peti mati yang berisi mayat dan dikubur di dalam tanah. Peti tersebut hanya menyisahkan Kepala Larasa saja, sebagai tanda adanya kubur bangsawan. Lalu, menurut sejarawan Kota Medan, Muhammad Azis Rizky Lubis, menyampaikan Peti Mati Nias Selatan ini berbentuk persegi empat. Untuk panjangnya berkisar 1.5 - 2 meter, maupun berupa pahatan kepala Lasara beserta lehernya dengan ukuran berkisar 1 meter.

Jadi, tanda kubur yang umum ditemukan di Nias Selatan adalah berupa behu dan kepala lasara. Behu sebagai tanda kubur hanya dibuat sebuah dan diletakkan di depan kuburan, serta pahatan yang umumnya digambarkan adalah salib.

Untuk pahatan berbentuk salib di makam tersebut, tentunya menandakan bahwa ajaran agama Kristen sudah masuk ke Nias Selatan. Seringkali sebuah tanda kubur yang berupa behu tersebut disejajarkan posisinya dengan salib berbahan kayu yang berfungsi juga sebagai tanda kubur.

Rumah Lezat yang Populer dengan Nasi Merahnya di Medan

Peti Mati Nias Selatan, merupakan peti mati yang dihiasi kepala Laras yang ada di Museum Negeri Sumut, Jalan HM Joni Nomor, 5 Kota Medan, Senin (15/6/202)
Peti Mati Nias Selatan, merupakan peti mati yang dihiasi kepala Laras yang ada di Museum Negeri Sumut, Jalan HM Joni Nomor, 5 Kota Medan, Senin (15/6/202) (Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar)

Peti mati yang disebut Hasi nifolasara ini, adalah peti mati yang diperuntukkan kepada golongan bangsawan dalam tradisi kematian masyarakat Nias bagian Selatan. Hasi nifolasara memiliki bentuk yang unik, yakni menyerupai perahu dan memiliki ornamen kepala lasara (makhluk menyerupai naga dalam mitologi dan kepercayaan masyarakat Nias Bagian Selatan).

Ornamen lasara itu sendiri merupakan lambang kehormatan bagi para bangsawan atau disebut si?ulu. Hal ini juga tak dapat dilepaskan dari adanya fakta-fakta sejarah, yang ditemukan di berbagai peralatan dan pahatan-pahatan pada batu megalitik.

Dimana yang tersebar di hampir seluruh wilayah Nias bagian selatan, bahwa setiap orang yang memiliki keistimewaan tersendiri diberi julukan hewan. Hal ini untuk melambangkan keistimewaannya.

Sebagai satu di antara contoh, orang yang bijaksana dianalogikan sebagai cicak, prajurit pemberani dijuluki ayam jago (silataona), dan sebagainya.

Julukan ini melekat dalam hidup mereka, bahkan hingga mereka meninggal. Muhammad Azis Rizky Lubis juga menjelaskan dari yang dipelajarinya bahwa julukan itu tidak hanya sebatas gelar kebesaran, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk pahatan pada batu-batu megalitik atau gowe, yang ada di desa atau Banua, serta relief-relief pada rumah adat yang mereka tempati, bahkan pada batu-batu nisan yang menandai makam tempat mereka dikebumikan.

Intip Keunikan Masker Motif Batak sebagai Pencegah Virus Corona

Tampak dari Belakang Peti Mati Nias Selatan, merupakan peti mati yang dihiasi kepala Laras yang ada di Museum Negeri Sumut, Jalan HM Joni Nomor, 5 Kota Medan, Senin (15/6/202)
Tampak dari Belakang Peti Mati Nias Selatan, merupakan peti mati yang dihiasi kepala Laras yang ada di Museum Negeri Sumut, Jalan HM Joni Nomor, 5 Kota Medan, Senin (15/6/202) (Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar)

Ia juga menerangkan bahwa Hasi nifolasara merupakan peti mati yang dikhususkan untuk jenazah bangsawan laki-laki (si?ulu), sedangkan untuk bangsawan perempuan (inada si?ulu) menggunakan peti mati yang lebih sederhana tanpa ornamen kepala lasara. Uniknya, hasi nifolasara ini dibuat sendiri oleh si?ulu sebagai bagian dari ritual kebangsawanannya.

Kemudian, di bagian samping dan atas peti biasanya diberi relief-relief tertentu sesuai dengan luasnya imajinasi si?ulu yang membuatnya. Lebih lanjut, gelar si?ulu itu sendiri tidak bisa disematkan pada orang sembarangan. Untuk memperolehnya, seseorang harus memiliki kriteria tertentu yang harus dibuktikan di depan orang banyak.

Seperti, memiliki kekuatan ekonomi yang mumpuni, menguasai bidang seni (pahat, tari, musik, dan sebagainya), memahami hukum dan aturan adat, mahir berbicara, mahir dalam berperang, serta memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Jadi, Manifestasi dari seluruh kriteria itu adalah ornamen kepala lasara.

Pada zaman dahulu hasi nifolasara memiliki leher yang cukup panjang, tujuannya agar ornamen kepala lasara dapat menjulang tinggi ketika peti telah dikuburkan bersama jenazah. Hasi nifolasara seperti ini sudah tidak dapat ditemui lagi saat ini. Jika pun ada, kondisinya sudah tidak utuh lagi karena dimakan usia. Hasi nifolasara yang dapat dijumpai di wilayah nias bagian selatan saat ini usianya kurang dari 50 tahun, dengan ciri; leher yang lebih pendek, relief yang lebih sederhana, serta diberi cat berwarna-warni.

(Tribun Medan WIKI/Aqmarul Akhyar)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved