SIMPASSRI

SIMPASSRI lahir dari semangat ideologis kesenimanan yang menjunjung tinggi UUD 1945 dan Pancasila.

SIMPASSRI
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Pengujung Memasuki Sanggar Simpassri atau Galeri Simpassri, Jalan Letjen Suprapto Simpang Jalan Teratai Nomor 1 Kota Medan, Minggu (23/2/2020) 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Dalam catatan sejarah yang diungkapkan oleh pengurus Yayasan SIMPASSRI, Fuad Edansyah kepada TribunMedanWiki bahwa SIMPASSRI lahir dari semangat ideologis kesenimanan yang menjunjung tinggi UUD 1945 dan Pancasila.

Diprakarsai oleh Pangkoanda (Pangkowilhan) Letjen AY. Mokoginta untuk menjembatani peran seniman dengan pemerintah sipil daerah baik ke Gubernur maupun Walikota.

Sehingga, terbentuklah Persatuan Seniman Seni Rupa Indonesia di Medan, dan untuk menunjukan lokalitasnya maka dicantumkan pengganti kata Persatuan menjadi “Simpaian” yang berasal dari bahasa Melayu memiliki arti “Ikatan” ( Sapu Lidi ) pada tanggal 18 Februari 1967.

Pengujung Sanggar Simpassri Lagi mengikuti diskusi terkait Dialog Seni di Sanggar atau Galeri Simpassri, Jalan Letjen Suprapto Simpang Jalan Teratai No 1 Kota Medan, Minggu (23/2/2020)
Pengujung Sanggar Simpassri Lagi mengikuti diskusi terkait Dialog Seni di Sanggar atau Galeri Simpassri, Jalan Letjen Suprapto Simpang Jalan Teratai No 1 Kota Medan, Minggu (23/2/2020) (Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar)

Untuk mendukung finansial organisasi tersebut, maka dibentuklah Yayasan Simpassri pada tahun 1972, dan Gedung atau Sanggar SIMPASSRI juga diresmikan oleh Panglima TNI Bapak Jenderal Poniman pada tahun 1975.

Kemudian, pertama kali terbentuknya Simpassri (1967) terdiri dari dari 39 orang pelukis, fotografer 25 orang, arsitektur 17 orang dan pemahat 9 orang.

Atas bantuan Bapak Letjen A. Tahir Pangkowilhan I Sumatera – Kalbar dan restu dari Gubernur Marah Halim dan Wallikota Medan Drs. Syurkani para pelukis Simpassri dapat ikut berpameran di Balai Budaya Jakarta tahun 1971.

Sejak itu, SIMPASSRI semakin dikenal oleh kalangan masyarakat, seniman lokal maupun nasional, termasuk para pejabat yang ada di Sumatera Utara. Mulai dari Gubernur hingga ke Walikota.

Kopi Takar

Bahkan Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar (alm) dan Bapak Tengku Rizal Nurdin (alm) ikut berperan dalam perkembangan SIMPASSRI.

Tak hanya itu saja, beberapa pelukis terkenal seperti Affandi, Kartika Affandi, Popo Iskandar, Amri Yahya, bersama dengan pelukis-pelukis Simpassri Machzum Siregar, Azis SB, Heru Wiryono, Mulyadi, Arfi Rahmat, Rusli Lubis, Drs. Oloan Situmorang, M.Hasan Siregar, Mhd. TWH.Burhan Piliang, MY. Sukarno, FX.Sukaryono,M. Syarif Ismail, Jacob Nasution, Kidro, Syamsul Bahri, Utoyo Hadi, S.Handono Hadi, Yandi Ario, M.Hasan Siregar, B.A, M.Saleh, Arry Dharma, Ibrahim Syam, dan banyak lagi lainnya yang tidak disebutkan.

Namun sayangnya para pengurus Yayasan maupun para seniman yang bernaung di Simpassri tidak terus melanjutkan statusnya Yayasan tersebut.

Sampai akhirnya tahun 2016 ini oleh seniman-seniman Simpassri kembali menaikkan statusnya menjadi Yayasan Simpassri yang dijabat Prof. Dr. Drg. Rasinta Tarigan sebagai Ketua Umum.

Beliau seorang pelukis yang sudah cukup senior di Simpassri bersama salah seorang pengurus yayasan Simpassri yang pertama yaitu Ir. Nurmansyah Piliang sebagai Ketua Pembina dan dr. Sofyan Tan , serta Prof. Dr. Usman Pelly, MA sebagai Badan Pengawas.

Batu Prasasti sebagai tanda persemian berdirinya Sanggar Simpassri atau Galeri Simpassri, Jalan Letjen Suprapto Simpang Jalan Teratai No 1 Kota Medan, Minggu (23/1/2020)
Batu Prasasti sebagai tanda persemian berdirinya Sanggar Simpassri atau Galeri Simpassri, Jalan Letjen Suprapto Simpang Jalan Teratai No 1 Kota Medan, Minggu (23/1/2020) (Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar)


Statusnya Yayasan Simpassri telah disyahkan melalui Akta Notaris Nomor 22, tertanggal 05 April 2016 dan Surat Keputusan Menkumham RI Nomor AHU-0020005.AH.01.04 tertanggal 12 April 2016.

Permasalahan yang dihadapi Gedung Sanggar Yayasan Simpassri saat ini yaitu :
1. Kondisi Gedung Sanggar yang sudah cukup tua sejak tahun 1975 termasuk halaman dan peekarangan.

2. Pendopo atau teras yang sebelumnya digunakan sebagai aktivitas sang88ar saat ini tidak lagi kehilangan daya tarik layak artistiknya.

3. Masyarakat dan seniman kurang bergairah melihat kondisi ini sehingga membuat menurunnya semangat berkarya bagi para seniman dan rendahnya minat masyarakat berkunjung ke sanggar.

4. Sisi Samping Timur Bangunan terancam oleh pengikisan air dari Sungai Deli sehingga dapat menimbulkan longsor.

Kesawan Square Medan

Dilihat dari letaknya sangat strategis karena berada di pusat kota Medan (ih.google map). Namun sayang tidak mampu lagi memberikan daya tarik (eye cathing) terutama jika dikaitkan dengan aspek pariwisata.

Padahal Simpassri adalah perjalanan sejarah seni rupa di Sumatera Utara bahkan bagian dari perjalana seni rupa di Indonesia.

Oleh karena itu upaya yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan ini adalah kembali melakukan renovasi pada beberapa bagian gedung dan pada bagian depan Gedung Simpassri dengan membuat pendopo dan anjungan arsitektur tradisional.

Adanya anjungan tradisional seperti ini diharapkan dapat memberikan pencitraan artistik, dan destinasi pariwisata di kota Medan.

Sumber:

- Drs. Fuad Edansyah, M.Sn. sebagai Pengurus SIMPASSRI

(TribunMedanWiki.com/Aqmarul Akhyar)

Ikuti kami di
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved