Masjid Raya Kota Binjai Telah Berusia 129 Tahun, Bukti Peninggalan Kesultanan Langkat

Masjid Raya merupakan peninggalan Kesultanan Langkat yang sudah berusia 129 tahun di Kota Binjai

Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Afritria
Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar
Batu Prasasti Peresmian Masjid Raya Kota Binjai Pada Zaman Kesultanan Langkat, di Jalan Kh Wahid Hasyim, Nomor 3, Pekan Binjai, Binjai Kota, Kota Binjai, Sumatera Utara, Rabu (22/1/2020) 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Kota Binjai yang terkenal dengan slogan Kota Indaman, ternyata menyimpan banyak sejarah tentang Kesultanan Langkat.

Satu di antaranya Masjid Raya merupakan peninggalan Kesultanan Langkat yang sudah berusia 129 tahun di Kota Binjai, Rabu (22/1/2020).

Imam Masjid Raya Kota Binjai, Ustadz Muhammad Hanzalah, mengatakan Mesjid Raya Binjai pertama kali dibangun oleh Sultan Langkat Tuanku Sultan Haji Musa Al Khalid Al- Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) Bin Raja Ahmad  dan juga meletakan batu pertama pada tahun 1887.

"Akan tetapi, dimasa Tuanku Sultan Haji Musa Pembangunan Masjid ini belum rampung atau belum selesai. Nah, setelah mangkatnya Tuanku Sultan Haji Musa, Kesultanan diperintah oleh putranya Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmat shah. Masjid ini pun selesai serta diresmikan oleh Tuanku Sultan Abdul Aziz lebih tahun 1890," tuturnya.

Kesawan Square Medan

Hanzalah, menjelaskan juga latar belakang Masjid Raya Kota Binjai dibangun pada saat itu, karena pada masa itu belum ada Masjid untuk rumah beribadah umat muslim atau Islam. Hal ini juga terjadi karena kerajaan Kesultanan Langkat sendiri merupakan kerajaan yang menganut agama Islam.

Namun, dahulu nama daerah di masjid raya bukan Kota binjai dan daerah ini masih menyatu pada kerajaan Kesultanan Langkat.

Kemudian, daerah yang sekarang bernama Kota Binjai, sebelumnya bernama Kabupaten Langkat.

Masjid Raya Kota Binjai, Jalan KH Wahid Hasyim, Nomor 3, Pekan Binjai, Binjai Kota, Kota Binjai, Sumatera Utara, Rabu (22/1/2020)
Masjid Raya Kota Binjai, Jalan KH Wahid Hasyim, Nomor 3, Pekan Binjai, Binjai Kota, Kota Binjai, Sumatera Utara, Rabu (22/1/2020) (Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar)

"Jadi nama Masjid ini, namanya Masjid Raya. Bangunannya masih asli belum ada perombakan bangunan atau rehab. Kalau bangunannya ini bernuansa atau arsitektur perpaduan kebudayaan arab dan melayu, dapat dilihat dari jendela, pintu, terus mimbar, serta ornamen Melayu," ucap, Hanzalah.

Selanjutnya, Hanzalah menjelaskan bahwa bagian dalam Masjid Raya Binjai belum pernah di renovasih melainkan bagian teras Masjid. Karena, hal ini merupakan harapan masyarakat Kota Binjai, agar Masjid Raya tersebut masih kelihatan sejarah peninggalan dari Kesultanan Langkat.

Hanzalah juga mengatakan bahwa wisatawan dari manca negara sudah banyak yang mengetahui Masjid Raya Binjai. Begitu juga dengan wisatawan di luar Kota Binjai.

"Ada wisatawan manca negara dari Malaysia yang datang ke Masjid Raya Binjai ini, nanti tanggal 20 bulan ini juga ada kunjungan dari

Palestina. Tak hanya wisatanwan namun mahasiswa juga menjadikan Masjid tersebut objek penelitian tesis," ucapnya

Dalam hal ini juga, Hanzalah menceritakan bahwa hal yang unik dianggap masyarakat merupakan tiang-tiang yang ada di dalam Masjid.

Begitu juga dengan sebuah mimbar khatib di Masjid tersebut.

Hanzalah juga mengatakan berdasarkan cerita orang-orang tua dahulu, bahwa tiang-tiang dan mimbar serta setiap sudut masjid memiliki maknanya tersendiri yang berkaitan dengan Islam.

"Sebenarnya ada maknanya ini tiang-tiang di dalam Masjid, ornamen-ornamen dan mimbar khatib. Cuman tak ada lagi refrensinya, tak bisa saya bilang. Yang mengetahui itu orang-orang tua dahulu tetapi sudah pula meninggal," tuturnya.

Kemudian, Hanzalah menjelaskan bahwa di masjid raya masih ada dua sumur dari berdirinya Masjid tersebut dan peninggalan batu prasasti yang bertuliskan Arab Melayu.

Jamaah Masjid Raya Kota Binjai Lagi Melakukan Ibadah Djuhur, di Jalan Kh Wahid Hasyim depan masjid raya No.3, Pekan Binjai, Binjai Kota, Kota Binjai, Sumatera Utara, Rabu, (22/1/2020)
Jamaah Masjid Raya Kota Binjai Lagi Melakukan Ibadah Djuhur, di Jalan Kh Wahid Hasyim depan masjid raya No.3, Pekan Binjai, Binjai Kota, Kota Binjai, Sumatera Utara, Rabu, (22/1/2020) (Tribun-medan/ Aqmarul Akhyar)

Batu prasasti tersesebut merupakan satu tanda atau keterangan waktu Masjid Raya Binjai dibangun. Ternyata dahulu, di depan Masjid Raya masih ada sungai yang mengalir. Namun, adanya ronovasi jalan terhadap Pemerintah Kota Binjai, maka sungai tersebut pun dipindahka.

"Di sini masih ada dua sumur peninggalan dari Kesultanan Langkat, yang masih dipakai. Air sumurnya pun, banyak di mintak masyarakat, kabarnya untuk obat. Nah kalau dahulu itu di depan Masjid ada sungai yang mengalir, sekarang sungainya pun sudah dipindahkan karena ada renovasi jalan dan tata kota oleh Pemko Binjai," ucapnya.

Selanjutnya, Hanzalah mengatakan dari zaman dahulu semenjak masjid raya ini berdiri.

Ikuti kami di
KOMENTAR
76 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved