Tribun Medan Wiki

Mencicipi Bakcang yang Halal, Panganan Tradisional khas Tionghoa Ini Bisa Ditemukan di Medan

Bakcang atau bacang merupakan penganan tradisional masyarakat Tionghoa Medan. Namun, di Kota Medan dapat ditemui penganan Bakcang yang Halal.

Tribun-medan/HO/Hilfani
Tampilan Bakcang yang sudah terbelah dan merupakan Penganan Khas Tradisional Tionghoa yang Halal, di Jalan, K.L Yos Sudarso, Gang Sri Deli, nomor 3D, Kota Medan, Kamis (14/11/2019) 

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRIBUNMEDANWIKI.com - Bakcang atau bacang merupakan penganan tradisional masyarakat Tionghoa Indonesia.

Bakcang juga merupakan penganan khas tradisional masyarakat Tionghoa Medan.

Kata "bakcang" berasal dari dialek Hokkian yang lazim digunakan suku Tionghoa di Indonesia.

Biasanya penganan backang ini ditemui setahun sekali pada saat perayaan hari besar masyarakat Tionghoa Medan.

Menurut legendanya, bakcang pertama muncul pada zaman dinasti Zhou berkaitan dengan simpati rakyat kepada Qu Yuan yang bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo.

Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Medan

Pada saat itu, bakcang dilemparkan rakyat sekitar ke dalam sungai, untuk mengalihkan perhatian makhluk-makhluk di dalamnya, supaya tidak memakan jenazah Qu Yuan.

Kemudian, penganan bakcang menjadi salah satu simbol perayaan Peh Cun atau Duanwu.

Secara harfiah bakcan yaitu "bak" ialah daging dan "cang" ialah berisi daging, jadi arti bakcang adalah berisi daging.

Akan tetapi pada praktiknya, selain yang berisi daging, ada juga cang yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi sama sekali.

Tidak semua orang Tionghoa bisa membuat penganan bakcang ini.

Hanya orang-orang Tionghoa tertentu saja, yang bisa membuat olahan penganan bakcang ini.

Konon kabarnya juga, di Kota Medan penganan bakcang sangat sulit temui di pusat pembelanjaan dan di pasar.

Apalagi pedangang penganan bakcang yang halal di Medan, sangat jarang ditemui.

Menyantap Kelezatan Ikan Laut Segar Sepuasnya di RM Terapung, Desa Bagan Percut Ujung, Deliserdang

Namun kesulitan itu bisa teratasi, dikarenakan seorang mahasiswi Magister Ilmukomunikasi USU, Hilfani Shaliha, yang merupakan keterunan suku Tionghoa Muslim, sudah beberapa bulan ini menggeluti usaha menjual panganan bakcang khas Tionghoa yang halal.

Hilfani melestarikan penganan bakcan khas tradisional Tionghoa dengan cara menjual penganan tersebut via online.

Baik itu via instagram @bacanghalalmedan dan menjual melalui whatsapp 085277063333.

Ia memasak bakcangnya di kediamannya di Jalan K.L Yos Sudarso, Gang Sri Deli, nomor 3D, Kota Medan.

Tampilan Bakcang yang masih terbungkus dengan daun bambu, di Jalan, K.L Yos Sudarso, Gang Sri Deli, nomor 3D, Kota Medan, Kamis (14/11/2019)
Tampilan Bakcang yang masih terbungkus dengan daun bambu, di Jalan, K.L Yos Sudarso, Gang Sri Deli, nomor 3D, Kota Medan, Kamis (14/11/2019) (Tribun-medan/HO/Hilfani)

Dalam wawancara yang dilakukan TribunMedanWiki pada Rabu (13/11/2019), Hilfani Shalih mengatakan bakcang yang dijualnya dibanderol senilai Rp 30 ribu per bungkusnya.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
26 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved